Di setiap sudut tanah Jawa, ada cerita yang di bisikan angin dari generasi ke generasi. Bukan sekadar legenda, tapi sebuah peringatan. Salah satunya adalah kisah yang disebut “Bayang Sukma Malam Jumat”. Ini bukan cerita tentang hantu yang menakut-nakuti, melainkan tentang dendam yang terkukus dalam kesunyian, tentang bayangan jiwa yang menolak untuk pergi. Bayangan itu tidak mencakar, tidak menggeram. Ia hanya datang, membawa keranda kayu tua, dan memilih. Dan malam Jumat adalah waktunya berburu. Kisah kita dimulai ketika seorang pemuda dari kota, Rendra Baswara, mencoba mencerna misteri ini dengan akal sehatnya, tidak menyadari bahwa akal sehat adalah hal pertama yang akan lenyap di Desa Wening Pati.
BAB I KEDATANGAN DI DESA WENING PATI
“Sudah sampai, Mas,” ucap seorang penunjuk jalan, suaranya serak karena debu jalan. Rendra menyapukan pandangan ke sekeliling. Rumah-rumah kayu berderet tidak beraturan dengan jarak cukup berjauhan satu sama lain, seolah malu-malu menyapa. Beberapa anak kecil yang bermain di halaman tanah liat berhenti sejenak, menatapnya dengan mata bulat penuh selidik. Seorang nenek tua di beranda sebuah rumah mengunyah sirih pelan, bibirnya merah kehitaman, matanya menatap tajam, seolah mampu melihat langsung ke dalam jiwa Rendra. “Balai desa ada di ujung jalan itu,” kata si penunjuk jalan, menunjuk ke arah bangunan kayu terbesar di ujung jalan tanah yang membelah desa.
Langit mulai memerah, jingga senja yang menyayat hati saat Rendra melangkah memasuki balai desa. Aroma kayu tua yang bercampur dengan wangi kemenyan dan bau tanah lembab menyambut kedatangannya. Seorang pria tua dengan kumis putih tebal duduk di kursi rotan yang berderit lirih setiap kali ia bergeser. “Selamat datang di Wening Pati, Nak,” ucapnya dengan suara dalam yang keluar dari rongga dada. “Saya Ki Jagabaya, kepala desa di sini.” Rendra menjabat tangan keriput yang terulur padanya, terasa kering dan kasar. “Terima kasih sudah mengizinkan saya melakukan penelitian di desa ini, Pak.” “Penelitian tentang mitos lokal, bukan? Jarang sekali ada orang kota yang tertarik dengan cerita tua kami.”
Sebelum Rendra sempat menjawab, seorang perempuan muda memasuki ruangan membawa nampan berisi dua gelas teh dan sepiring ubi rebus yang masih mengepul. Rambutnya yang hitam panjang tergerai hingga ke pinggang, kontras dengan kulit sawo matangnya. Matanya menatap Rendra sesaat, tajam namun kosong, sebelum meletakkan nampan di meja dengan gerakan lembut. “Ini cucuku, Wulan Sarasvati,” perkenalkan Ki Jagabaya. “Kamu akan menginap di rumahnya selama penelitian. Rumah saya terlalu sempit untuk tamu.” Wulan mengangguk tanpa senyum, sebuah gerakan hampir tak terlihat. “Mari, Mas. Saya antar ke rumah.” “Baik, terima kasih,” jawab Rendra.
Setelah berpamitan kepada Ki Jagabaya, keduanya segera meninggalkan rumah itu. Rumah Wulan terletak tidak jauh dari balai desa, lebih besar dari rumah lainnya, namun terawat dengan aura kesepian. Lantai kayu berderit nyaring saat mereka melangkah masuk, seperti suara desahan dari zaman lampau. “Kamar ada di sebelah sana,” ujar Wulan menunjuk pintu kayu di ujung ruangan. “Kamar mandi di belakang. Air sumur, jadi mungkin agak dingin.” Rendra meletakkan ranselnya di kamar. Dinding kayu tanpa hiasan, sebuah dipan dengan kasur tipis dan meja kecil di sudut ruangan. Jendela kecil menghadap ke arah hutan yang mengelilingi desa, gelap dan mengintimidasi. “Terima kasih, Wulan.” “Mas harus tahu beberapa aturan di sini,” kata Wulan bersandar di kusen pintu, suaranya rendah. “Jangan keluar rumah setelah matahari terbenam. Tutup jendela dan pintu rapat-rapat saat malam. Jangan membahas hal-hal aneh yang mungkin Mas lihat atau dengar, terutama di hadapan warga lain.” “Hal aneh seperti apa?” Wulan terdiam sejenak, matanya menatap keluar jendela ke kegelapan hutan. “Nanti Mas akan tahu sendiri. Lebih baik tidak tahu sejak dini.”
BAB II MALAM PERTAMA YANG MENCEKAM
Malam pertama berlalu tanpa kejadian berarti, hanya kesunyian yang terasa lebih tebal dari biasanya. Pagi berikutnya Rendra mulai berkeliling desa, mewawancarai warga tentang mitos dan kepercayaan lokal mereka. Sebagian besar warga menyambutnya dengan ramah meski terkesan waspada, seolah ia adalah penyakit yang bisa menular. “Kami percaya hutan di sekitar desa ini, Alas Mayang Pati, dihuni oleh para leluhur,” cerita Ki Sembara Wungu, dukun desa, sembari mengisap rokok kreteknya yang menyala redup. Asapnya menari-nari di udara pagi yang dingin. “Mereka menjaga kami, tapi juga bisa menghukumi siapa saja yang melanggar aturan.” “Aturan seperti apa, Ki?” “Banyak. Tapi yang paling penting, jangan pernah mengganggu keranda tua di balai desa.”
Rendra teringat sesuatu yang ia lihat kemarin. Sebuah keranda kayu tua di sudut balai desa, tertutupi kain putih yang telah menguning dan berdebu. “Keranda itu untuk apa, Ki?” Ki Sembara Wungu terdiam. Tangannya yang menggenggam rokok sedikit bergetar. “Lebih baik tidak usah tahu, Nak. Tidak semua pertanyaan perlu jawaban. Beberapa pintu lebih baik tidak dibuka.”
Saat matahari mulai terbenam, Rendra kembali ke rumah Wulan. Ia mendapati perempuan itu sedang menutup semua jendela dengan kayu penutup dan mengujinya dengan geseran kayu yang berat. “Ada apa?” tanya Rendra. “Malam ini Jumat Kliwon. Jangan keluar rumah, apapun yang terjadi.” Suasana desa berubah mencekam saat malam tiba. Tidak ada suara aktivitas dari luar. Tidak ada suara TV, tidak ada percakapan, bahkan suara jangkrik atau kodok malam pun seakan lenyap ditelan kebisuan yang aneh. “Memangnya ada apa dengan Jumat Kliwon?” tanya Rendra saat mereka makan malam dengan nasi dan sayur pakis di atas meja kecil. Wulan meletakkan sendoknya dengan pelan. “Di desa ini, malam Jumat Kliwon adalah malam ketika bayangan itu berkeliling.” “Bayangan?” “Bayangan dari keranda tua di balai desa. Saat tengah malam, bayangan itu akan terlepas dan bergerak sendiri, mengelilingi lapangan desa tanpa ada yang mengusungnya.” Rendra tersenyum skeptis. “Kau percaya hal seperti itu?” “Aku lahir dan besar di sini, Mas. Aku tahu apa yang aku lihat. Dan aku tahu apa yang aku rasakan.”
Tengah malam, Rendra terbangun oleh suara bisikan lembut dari luar, seperti angin yang berbisik dalam bahasa yang tidak dikenal. Ia mengintip dari celah jendela kamarnya. Di kejauhan, ia melihat beberapa warga mengintip dari jendela rumah mereka. Wajah-wajah tegang mengawasi sesuatu di tengah lapangan desa. Rendra memfokuskan pandangannya. Di bawah remang cahaya bulan yang malu-malu, ia tidak melihat keranda. Ia melihat sesuatu yang lebih aneh. Sebuah bayangan hitam pekat, yang bentuknya menyerupai keranda, bergerak perlahan mengelilingi lapangan. Bayangan itu bergerak sendiri, terpisah dari benda apapun. Ia melayang beberapa sentimeter dari tanah, bergerak dengan irama konstan yang membuat bulu kuduknya meremang. “Sudah ku bilang, jangan mengintip,” suara Wulan mengagetkannya dari belakang. “Apa itu? Bagaimana bisa?” Rendra tetap menatap bayangan yang kini bergerak mendekati arah rumah mereka. “Lebih baik, Mas. Jangan tahu terlalu banyak.” Wulan menarik Rendra menjauh dari jendela. “Jangan menatapnya terlalu lama. Bayangannya bisa… lengket.” “Kenapa? Apa bayangan itu mencari pengganti?” “Pengganti apa?” Wulan tidak menjawab, hanya menatap Rendra dengan sorot mata yang sulit dijelaskan, campuran dari takut dan iba.
Keesokan paginya, desa digemparkan oleh penemuan mayat Pak Parno, seorang warga yang tinggal di pinggir desa. Tubuhnya ditemukan tergantung di pohon jambu di kebunnya sendiri. Kulitnya menghitam pekat, seakan terbakar dari dalam, namun pakaiannya tidak ada yang terbakar. “Sudah kuduga. Semalam aku melihatnya menatap bayangan keranda itu terlalu lama dari jendela rumahnya,” bisik seorang warga kepada yang lain. Rendra bergidik. Ia menghampiri mayat itu, mengamati dalam diam. Tidak ada tanda-tanda kekerasan selain bekas lilitan tali di lehernya dan kulit yang menghitam secara tidak wajar. “Dia dipilih,” suara Ki Sembara Wungu membuat Rendra menoleh. Dukun tua itu berdiri di sampingnya, menatap mayat dengan ekspresi datar. “Dipilih untuk apa, Ki?” “Untuk menjadi bagian dari bayangan itu. Menjadi sukmanya.”
BAB III SAKSI DARI MASA LALU
Sore itu, Rendra kembali ke balai desa. Ia ingin melihat keranda tua itu lebih dekat. Namun, keranda itu tidak ada di tempatnya. Hanya ada kain putih kusam terlipat rapi di sudut ruangan. “Mencari sesuatu, Mas?” suara Ki Jagabaya mengagetkannya. “Keranda yang kemarin saya lihat di sini.” “Keranda itu hanya keluar saat diperlukan,” kata Ki Jagabaya duduk di kursi rotanya yang biasa. “Sebaiknya Mas fokus saja pada penelitian antropologi, bukan pada benda-benda sakral desa kami.” Bunyi jangkrik mengiringi malam yang pekat di Desa Wening Pati.
Rendra duduk di beranda rumah Wulan. Matanya menerawang ke arah balai desa yang tampak sunyi. Peristiwa malam Jumat Kliwon kemarin masih membayangi pikirannya. Bayangan keranda yang melayang-layang tanpa pengusung. Tubuh Pak Parno yang menghitam tergantung di pohon jambu. “Mas, masih di sini rupanya,” suara Wulan mengejutkannya. Perempuan itu membawa secangkir kopi panas yang mengepul. “Kupikir Mas akan langsung pulang setelah kejadian kemarin.” Rendra menerima cangkir itu. “Justru karena itu aku ingin tetap tinggal. Ada yang harus aku ketahui tentang bayangan itu.” Wulan menghela nafas panjang, rambutnya yang terurai bergerak pelan tertiup angin malam. “Bayangan itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan teori antropologi, Mas. Tapi pasti ada cerita di baliknya, kan? Sejarah yang tersimpan.” “Ada satu orang yang mungkin bisa membantu,” Wulan menatap ke arah bukit kecil di ujung desa. “Nyai Kinasih, dia tinggal di pondok kayu dekat hutan sana.” “Kalau begitu, besok aku akan menemuinya,” kata Rendra menutup bukunya. Kepalanya menoleh ke arah Wulan yang duduk di kursi sebelahnya. “Kamu mau menemaniku ke sana?” “Maaf, Mas. Aku enggak bisa. Besok aku harus membantu kakek ke ladang.” Renda hanya mengangguk kecil.
Pagi-pagi sekali, Rendra sudah bersiap mendaki bukit kecil di ujung desa. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan. Beberapa warga yang berpapasan dengannya memandang dengan sorot mata curiga. “Mau ke mana, Mas?” tanya seorang warga. “Ke rumah Nyai Kinasih, Pak?” Rendra berhenti sejenak lalu melanjutkan langkah. “Ke Nyai Kinasih,” bisik salah satu warga yang lain saat Rendra sudah berjalan jauh. “Mau apa dia ke sana?” “Embuh, biarin aja. Enggak usah dipedulikan.”
Tidak berapa lama Rendra tiba di pondok Nyai Kinasih yang berdiri menyendiri di tepi hutan. Dindingnya dari kayu yang sudah lapuk, atapnya dari daun kelapa yang disusun rapi. Asap mengepul dari cerobong bambu di bagian belakang. “Assalamualaikum,” Rendra mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. “Assalamualaikum.” “Siapa?” suara serak terdengar dari dalam. “Saya Rendra, Mbah. Mahasiswa dari kota. Saya ingin bertanya sesuatu.”
Pintu terbuka perlahan. Seorang perempuan tua dengan rambut putih terurai muncul. Kulitnya keriput dalam, matanya yang keruh menatap Rendra dengan tajam. “Anak kota mencari apa di tempat terpencil seperti ini?” “Saya ingin tahu tentang bayangan keranda tua di balai desa.” Tubuh Nyai Kinasih menegang. Tangannya yang gemetar mencengkeram kusen pintu erat-erat. “Masuk.” Perintahnya singkat. Interior pondok itu pengap. Dinding-dindingnya dihiasi berbagai tanaman kering dan tulang-tulang hewan kecil. Di tengah ruangan, sebuah tungku kecil menyala dengan api yang berkobar lemah. “Duduk,” Nyai Kinasih menunjuk tikar usang di lantai. Ia sendiri duduk di kursi goyang tua yang berderit. “Kamu bukan orang pertama yang datang bertanya tentang bayangan itu. Tapi mungkin yang terakhir.” “Apa maksudnya, Mbah?” “Mereka yang terlalu banyak tahu biasanya tidak pernah kembali ke kota.” Rendra menelan ludah. “Saya hanya ingin mengetahui sejarahnya untuk penelitian.” Nyai Kinasih tertawa pelan. Suaranya seperti daun kering bergesekan. “Sejarah itu bukan sekedar sejarah, anak muda. Itu kutukan. Kutukan yang bernama Bayang Sukma Malam Jumat.”
Ia bangkit dari kursinya, berjalan tertatih-tatih ke arah lemari kayu tua di sudut ruangan. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berukir. “Aku adalah satu-satunya saksi hidup kejadian itu.” Nyai Kinasih membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah sapu tangan usang dengan noda kecoklatan. “Pembakaran Sukma Tanah Kubur.” “Sukma Tanah Kubur?” “Dulu, dia adalah seorang dukun wanita yang bernama Ratna. Dituduh menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai warga desa. Mereka membakarnya hidup-hidup di tengah lapangan desa.” Rendra mengeluarkan buku catatannya. “Kapan itu terjadi, Mbah?” “50 tahun lalu. Aku masih gadis muda waktu itu.
Ratna dituduh menyebarkan wabah yang membunuh 10 anak kecil dalam waktu seminggu. Warga murka, lalu mereka menyeretnya dari rumahnya, mengikatnya di tiang, dan membakarnya. Dan keranda itu… keranda itu seharusnya untuk jenazahnya. Tapi saat api padam, tubuhnya tidak ditemukan. Hanya tiang yang tersisa utuh tanpa cacat, meski api telah melahap segalanya.” Rendra mencatat dengan cepat. “Lalu apa yang terjadi selanjutnya?”
“Sebulan kemudian, tepat malam Jumat Kliwon, bayangan keranda itu bergerak sendiri untuk pertama kalinya. Malam itu kami kehilangan satu warga. Tubuhnya ditemukan menghitam seperti terbakar dari dalam. Seperti yang terjadi pada Pak Parno kemarin,” Nyai Kinasih mengangguk. “Sejak itu, setiap malam Jumat Kliwon, bayangan itu berkeliling mencari tumbal. Arwah Ratna, yang kini kami sebut Sukma Tanah Kubur, membalas dendam.” “Apakah tidak ada yang mencoba menghancurkan keranda itu?” “Banyak yang sudah mencoba. Dibakar, dipotong, dibuang ke jurang. Tapi keranda itu selalu kembali ke balai desa keesokan harinya. Karena yang dihancurkan bukanlah sumbernya.”
Nyai Kinasih beringsut mendekati Rendra. Suaranya berbisik. “Sukma Tanah Kubur masih terikat pada dunia ini. Dia membutuhkan tubuh baru untuk kembali hidup. Setiap tumbal adalah persiapan untuk kebangkitannya. Sebaiknya kamu enggak perlu mencari tahu lebih dalam tentang masalah ini, anak muda. Lebih baik pergi dari desa ini. Pulanglah ke kota sebelum semuanya terlambat.”
BAB IV KEMARAHAN ARWAH
Rendra kembali ke desa dengan kepala dipenuhi pertanyaan. Senja mulai turun, membawa kesunyian yang mencekam ke seluruh desa. Di kejauhan, ia melihat seorang anak kecil bermain sendirian di halaman rumahnya. Tanpa peringatan, anak itu tiba-tiba terjatuh dan tubuhnya mengejang hebat. Mulutnya berbusa, matanya terbalik, memperlihatkan bagian putihnya saja. Orang-orang berhamburan dari rumah mereka menghampiri anak tersebut. “Tolong, tolong anakku!” seorang perempuan berteriak histeris, memeluk tubuh mungil yang masih kejang.
Ki Sembara Wungu muncul dengan sebotol air dan ramuan. Ia memaksa anak itu meminumnya perlahan. Kejang mereda. Tapi alih-alih tenang, anak itu tiba-tiba duduk tegak. Matanya masih terbalik. “Yang dulu dibakar belum mati,” anak itu berkata dengan suara yang bukan miliknya. Suara serak seorang perempuan tua yang penuh dengan kebencian. “Dia akan kembali, tubuh demi tubuh.” Kemudian anak itu pingsan dalam pelukan ibunya yang meratap. Warga desa semakin panik. Beberapa mulai mengepak barang, bersiap meninggalkan desa. Yang lain berkumpul di balai desa, meminta perlindungan dari kepala desa dan dukun.
“Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?” tanya Rendra pada Wulan saat ia sudah kembali ke rumah. Wulan menyalakan lampu minyak. “Bayangan itu bukan sekedar wadah arwah, Mas, tapi juga wadah sisa-sisa ilmu hitam Sukma Tanah Kubur. Setiap tumbal membuat kekuatannya semakin besar.” “Kenapa kalian tidak meninggalkan desa ini saja?” “Tidak semudah itu,” Wulan menggeleng. “Siapapun yang lahir di desa ini terikat oleh sumpah leluhur. Kami tidak bisa pergi begitu saja.”
Malam semakin larut, Rendra memutuskan untuk pergi ke balai desa, ingin melihat langsung keranda itu sebelum gelap. Di sana ia mendapati Ki Jagabaya dan beberapa tetua desa sedang berdiskusi dengan wajah tegang. “Ada apa, Pak?” tanya Rendra. “Bayangan itu,” Ki Jagabaya menunjuk ke sudut ruangan. “Sudah tidak di tempatnya sejak sore tadi.” Rendra menoleh ke arah yang ditunjuk. Hanya ada kain putih usang tergeletak di lantai. Keranda tua yang biasanya tersimpan di situ telah menghilang. “Tapi ini bukan malam Jumat Kliwon, kan, Pak?” “Itulah yang membuat kami khawatir,” Ki Jagabaya menghela nafas berat. “Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Aturannya sudah dilanggar olehnya.”
Tiba-tiba, pintu balai desa terbuka dengan keras. Seorang pemuda berlari masuk dengan nafas terengah-engah. “Gawat! Ada yang melihat bayangan keranda itu melayang di dekat rumah Nyai Kinasih!” Tanpa pikir panjang, Rendra berlari keluar, tidak mengindahkan seruan Ki Jagabaya yang memintanya kembali.
BAB V KITAB PENGIKAT ARWAH
Langit sudah gelap gulita, bulan tertutup awan tebal. Nyaris tidak ada cahaya yang menerangi jalan setapak menuju ke bukit. Sesampainya di kaki bukit, Rendra mendengar jeritan melengking dari arah pondok Nyai Kinasih. Ia mempercepat langkahnya menaiki bukit dengan nafas memburu. Keringat dingin mengucur deras di tengkuknya. Pondok kayu itu tampak gelap. Tidak ada cahaya dari dalam, pintu depannya terbuka lebar, bergoyang-goyan tertiup angin.
“Nyai Kinasih!” Rendra memanggil dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Ruangan itu kosong. Tungku di tengah ruangan telah padam. Kotak kayu berukir yang tadi diperlihatkan Nyai Kinasih tergeletak terbuka di lantai, isinya berhamburan.
Rendra menyalakan senter dari ponselnya, menerangi setiap sudut pondok. Tidak ada tanda-tanda keberadaan perempuan tua itu. Krak. Suara derit kayu di belakang pondok mengejutkannya. Rendra berbalik, mengarahkan cahaya senternya ke sumber suara. Di sana, di halaman belakang yang gelap, ia melihat keranda tua itu melayang beberapa sentimeter dari tanah, dikelilingi oleh bayangan hitam pekat yang berdenyut seperti jantung. Jantung Rendra berdebar kencang. Ia mundur perlahan, tapi kakinya tersandung sesuatu di lantai. Ia menunduk.
Cahaya senternya menyoroti apa yang membuatnya tersandung: sebuah tangan keriput tergeletak di lantai. Darah masih mengalir dari pergelangan yang terpotong. Rendra terkesiap. Ia mengangkat senternya lebih tinggi, menerangi jejak darah yang mengarah ke luar pondok, ke arah keranda yang masih melayang di halaman belakang. Dengan memberanikan diri, Rendra mendekati keranda itu. Cahaya kebiruan samar memancar dari celah-cela kayunya. Suara bisikan terdengar dari dalamnya, memanggil namanya. “Rendra… Rendra…” Rendra mengangkat senternya, menyoroti keranda itu. Dalam sekejap tutup keranda terbuka dengan keras. Cahaya kebiruan menyembur keluar, menyilaukan matanya.
Saat penglihatannya kembali normal, Rendra melihat sosok Nyai Kinasih terbaring di dalam keranda. Tubuhnya terbelah menjadi beberapa bagian, tapi tetap tersusun rapi seperti jenazah utuh. Matanya terbuka lebar, menatap Rendra dengan sorot yang tidak lagi kosong. “Dia kembali,” bisik tubuh Nyai Kinasih dengan suara yang bukan miliknya. Rendra berbalik, berusaha lari, namun sesuatu menahannya. Ia menoleh ke belakang.
Tubuh Nyai Kinasih kini berdiri di samping keranda. Padahal sedetik lalu masih terbaring di dalamnya. Kulitnya yang keriput mengelupas, memperlihatkan lapisan kulit muda di bawahnya. “Kau ingin tahu tentang Sukma Tanah Kubur? Aku adalah Sukma Tanah Kubur.” Tangan Nyai Kinasih—atau Sukma Tanah Kubur—mencengkeram lengan Rendra dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh tubuh setua itu. “57 tahun aku menunggu, mengumpulkan kekuatan dari setiap tumbal, dan kini aku bisa kembali.” Kulit tua itu terus mengelupas, jatuh berserakan di tanah. Di baliknya muncul wajah seorang perempuan muda dengan kulit halus tanpa cacat dan rambut hitam panjang. “Kau akan menjadi saksi kebangkitanku, anak muda. Seperti Kinasih yang menjadi saksi kematianku.”
Tiba-tiba, suara teriakan dan derap pelan kaki terdengar mendekat. Warga desa muncul dari kegelapan, dipimpin oleh Ki Jagabaya dan Ki Sembara Wungu. Mereka membawa obor dan berbagai senjata tajam. “Mundur, iblis!” teriak Ki Jagabaya.
Sosok perempuan yang baru setengah terbentuk itu menoleh ke arah kerumunan. Wajahnya berubah marah. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia mendorong Rendra ke dalam keranda yang masih terbuka. “Tidak!” Rendra berteriak, berusaha melawan. Tutup keranda langsung tertutup dengan keras. Rendra merasakan kegelapan dan dingin yang menusuk tulang. Dari dalam keranda, ia bisa mendengar keributan di luar: teriakan-teriakan dan suara sesuatu yang terbakar. Entah berapa lama waktu berlalu, Rendra merasa tubuhnya semakin lemah, seakan ada sesuatu yang menghisap energi kehidupannya perlahan-lahan.
Dalam kelemahan itu, ia mendengar tutup keranda terbuka kembali. Cahaya obor menyilaukan matanya. Wajah-wajah cemas mengelilinginya. Ki Jagabaya, Ki Sembara Wungu, dan warga desa lainnya. “Cepat keluarkan dia!” seru Ki Sembara Wungu. Tangan-tangan kuat menariknya keluar dari keranda. Tubuhnya terasa lemas, hampir tidak mampu berdiri. Ia melihat sekeliling. Tubuh Nyai Kinasih tergeletak tidak jauh dari situ, sudah menjadi abu seluruhnya. “Apa yang terjadi?” tanya Rendra lemah. “Kami berhasil menahannya. Untuk saat ini,” jawab Ki Jagabaya.
Ki Sembara Wungu berlutut di samping keranda. Dengan hati-hati ia meletakkan bunga-bunga, kemenyan, dan ramuan di sekeliling benda itu. “Tapi ini tidak akan bertahan lama. Dia sudah terlalu kuat sekarang.” Dengan dibantu oleh dua pemuda desa, Rendra dibawa kembali ke desa. Di belakang mereka, keranda tua itu diangkat dengan hati-hati untuk dibawa kembali ke balai desa.
Cahaya lilin bergoyang lemah di meja kayu tua. Rendra membuka buku catatan penelitiannya, menggoreskan pensil pada halaman yang masih kosong. Amulet pemberian Ki Jagabaya terasa hangat di dadanya. Tiga hari berlalu sejak peristiwa di pondok Nyai Kinasih. Desa Wening Pati seperti desa mati. Pintu-pintu tertutup rapat. Anak-anak tidak bermain di halaman. Hanya sesekali tampak bayangan warga mengintip dari celah jendela.
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Wulan masuk dengan langkah pelan, membawa secangkir kopi dan sepiring singkong rebus. “Mas, masih di sini?” ucapnya lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. “Aku tidak bisa pergi begitu saja,” jawab Rendra menerima cangkir kopi dari tangan Wulan. “Tidak setelah apa yang terjadi di pondok Nyai Kinasih.” Wulan duduk di tepi ranjang. Tangannya memainkan ujung selendang yang melilit lehernya. “Kakek dan para tetua desa sudah memutuskan Mas harus pergi besok pagi, demi keselamatan Mas sendiri.” “Dan membiarkan kalian menghadapi kutukan itu selamanya?” Wulan terdiam. Matanya menatap lantai kayu yang mulai lapuk. “Ini takdir kami.” “Tidak ada yang namanya takdir,” kata Rendra menutup buku catatannya. “Pasti ada cara untuk menghentikan kutukan keranda itu.” Wulan mengangkat wajahnya. Ada kilat aneh di matanya. “Sebenarnya… mungkin ada cara.” “Apa?” “Ikut aku.”
Malam itu, Wulan membawa Rendra menyusuri jalan setapak ke arah hutan di belakang rumahnya. Langit tanpa bulan membuat kegelapan terasa pekat. Suara burung hantu sesekali memecah kesunyian malam. Mereka tiba di sebuah pondok kayu kecil tersembunyi di antara pepohonan. Tidak ada jendela, hanya pintu kayu tebal dengan ukiran aneh di permukaannya. “Ini tempat kakekku dulu,” Wulan mengeluarkan kunci tua dari balik selendangnya. “Beliau dukun putih yang disegani sebelum wabah merenggut nyawanya 15 tahun lalu.”
Pintu terbuka dengan derit panjang. Udara pengap dan bau debu menyeruak keluar. Wulan menyalakan pelita kecil di bawahnya, menerangi ruangan sempit dengan dinding penuh ukiran. “Kakekku selalu mengatakan bahwa suatu hari kutukan itu bisa dihentikan,” kata Wulan meletakkan pelita di atas meja kayu berlumut. “Tapi tidak ada yang berani mencoba.” Rendra melangkah masuk, memperhatikan ukiran-ukiran aneh di dinding. “Apa arti semua ini?” “Mantra pelindung,” Wulan berlutut di sudut ruangan, tangannya meraba-raba lantai kayu mencari sesuatu. “Membantu menyembunyikan tempat ini dari mata arwah jahat.”
Wulan menemukan papan lantai yang longgar dan mengangkatnya. Dari lubang gelap di bawahnya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam. “Ini peninggalan terakhir kakekku.” Wulan membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Sebuah kitab tua dengan sampul kulit yang sudah mengering terbuka di hadapan mereka. “Kitab Pengikat Arwah.” Rendra membantu Wulan membuka halaman-halaman rapuh kitab tersebut. Tulisan tangan dengan tinta merah kecoklatan memenuhi setiap halamannya, dihiasi gambar-gambar aneh dan diagram rumit.
“Menurut kakekku, keranda itu hanya wadah,” kata Wulan menunjuk sebuah gambar keranda dengan tulisan-tulisan kecil di sekelilingnya. “Arwah Sukma Tanah Kubur sebenarnya bisa dimusnahkan dengan ritual pembakaran khusus.” “Pembakaran? Bukankah dia sudah dibakar dulu?” “Itu pembakaran tubuh fisiknya,” Wulan membuka halaman berikutnya, menunjukkan diagram lingkaran dengan berbagai simbol. “Ini adalah ritual untuk membakar arwahnya. Memutuskan ikatannya dengan dunia ini selamanya.”
Mereka menghabiskan malam itu mempelajari kitab tersebut. Wulan menerjemahkan tulisan-tulisan kuno, sementara Rendra mencatat setiap detail ritual yang diperlukan. “Kita butuh darah binatang kurban, bunga tujuh rupa, kemenyan hitam, dan…” Wulan membaca halaman terakhir, suaranya bergetar, “…darah keturunan dukun yang masih hidup.” “Darah keturunan dukun?” “Darahku,” Wulan menatap Rendra. “Kakekku seorang dukun. Aku cucu satu-satunya.” “Itu berbahaya, Wulan.” “Tidak ada cara lain,” Wulan menutup kitab itu. “Jumat Kliwon berikutnya, 3 hari lagi. Kita harus siap sebelum itu.”
BAB VI RITUAL TERAKHIR
Keesokan harinya, Rendra berbicara dengan Ki Jagabaya, menjelaskan rencana mereka. Kepala desa itu mendengarkan dengan wajah murung. “Kalian berdua gila,” ucapnya setelah Rendra selesai. “Banyak yang sudah mencoba melawan kutukan itu. Tidak ada yang berhasil.” “Tapi kita punya ini, peninggalan kakek Wulan,” Rendra mengeluarkan catatan yang dibuatnya semalam.
“Detail ritual yang tepat untuk menghancurkan arwah Sukma Tanah Kubur.” Ki Jagabaya memperhatikan catatan itu dengan mata menyipit. “Kalaupun ini berhasil, resikonya sangat besar. Arwah Sukma Tanah Kubur tidak akan tinggal diam.” “Lebih besar resiko membiarkan kutukan itu terus berlanjut. Berapa banyak lagi warga yang harus mati?”
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Ki Jagabaya mengumpulkan tetua desa untuk membicarakan rencana tersebut. Dua hari berikutnya dihabiskan untuk persiapan ritual. Warga desa membantu mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan. Beberapa pria berburu binatang untuk kurban. Yang lain mencari bunga tujuh rupa di sekitar hutan. Ki Sembara Wungu menyiapkan kemenyan hitam dan ramuan-ramuan lainnya. Sementara itu, Rendra dan Wulan berlatih membaca mantra-mantra dari kitab tersebut. Kata-kata dalam bahasa kuno yang sulit diucapkan. Mereka berlatih hingga tenggorokan mereka sakit dan suara mereka serak.
Malam Jumat Kliwon pun tiba. Langit berawan tebal tanpa bintang. Petir sesekali menyambar di kejauhan, diikuti gemuruh guntur yang menggetarkan jendela-jendela rumah. Balai desa telah disiapkan untuk ritual. Lantainya digambar dengan lingkaran dan simbol-simbol sesuai petunjuk dalam kitab. Lilin hitam dinyalakan di setiap sudut ruangan. Di tengah lingkaran, keranda tua itu diletakkan di atas tumpukan kayu bakar yang sudah disiram minyak tanah. “Semua warga harus tetap di rumah masing-masing,” Ki Jagabaya memberi instruksi terakhir. “Kuncilah pintu dan jendela. Apapun yang kalian dengar, jangan keluar sampai matahari terbit.”
Warga desa kembali ke rumah mereka dengan wajah cemas. Hanya Rendra, Wulan, Ki Jagabaya, dan Ki Sembara Wungu yang tinggal di balai desa. “Kita mulai saat tengah malam,” kata Ki Sembara Wungu, meletakkan mangkuk berisi darah binatang kurban di dekat keranda. Wulan duduk di tepi lingkaran, membaca ulang mantra-mantra dalam kitab kakeknya. Tangannya gemetar. “Kau yakin ingin melakukan ini?” tanya Rendra duduk di sampingnya. “Tidak ada pilihan lain,” Wulan menutup kitab itu. “Ini satu-satunya kesempatan kita.”
Tengah malam menjelang. Angin kencang tiba-tiba bertiup, memadamkan beberapa lilin. Pintu balai desa terbanting menutup dengan sendirinya. Suara-suara aneh mulai terdengar dari luar, seperti bisikan dan tangisan yang tercampur jadi satu. “Sudah dimulai,” kata Ki Sembara Wungu berdiri waspada. “Dia tahu apa yang akan kita lakukan.” Tanpa peringatan, keranda tua itu bergerak. Bukan melayang seperti biasanya, tapi bergetar hebat di tempatnya. Tutupnya terbuka dan tertutup dengan cepat, menimbulkan suara derit kayu yang memekakkan telinga. “Kita harus segera memulai ritual!” teriak Ki Jagabaya di tengah kebisingan.
Wulan mengambil pisau kecil, menggores telapak tangannya. Darah merah pekat mengalir ke mangkuk yang telah disiapkan. Ia mengucapkan mantra pembuka dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, dari langit-langit balai desa terdengar suara jerit-jerit memilukan. Ratusan suara yang menangis dan berteriak sakit. Rendra mendongak dan melihat bayang-bayang hitam bergerak cepat di langit-langit, seperti asap yang terbentuk menjadi wajah-wajah tersiksa. “Arwah para korban,” Ki Sembara Wungu menjelaskan tanpa diminta. “Dia menggunakan mereka sebagai pelindung.”
Seiring berlanjutnya ritual, keranda bergerak semakin liar. Ia mulai melayang, berputar cepat mengelilingi ruangan. Angin kencang bertiup dari dalam keranda, menerbangkan benda-benda kecil di sekitarnya. Wulan terus membaca mantra, diikuti oleh Rendra yang mengulang setiap kata. Darah di mangkuk mulai bergerak, membentuk pola-pola aneh di permukaannya.
Tiba-tiba, pintu balai desa terbuka lebar. Beberapa warga desa berdiri di ambang pintu. Mata mereka kosong. Tubuh mereka bergerak kaku seperti boneka yang dikendalikan. “Mereka kerasukan!” seru Ki Sembara Wungu. “Cepat tutup pintunya!” Ia berlari ke arah pintu, tapi terlambat. Warga desa yang kerasukan menerobos masuk, menyerang siapa pun yang mencoba menghalangi. Mereka bergerak dengan kecepatan tidak wajar. Tangan mereka mencengkeram dan mencakar. Rendra menghindari serangan seorang pemuda desa yang berusaha mencekiknya. “Kita harus tetap melanjutkan ritual!”
Di tengah kekacauan, Wulan masih membaca mantra. Tubuhnya mulai gemetar hebat. Darah mengalir dari hidungnya, menetes ke atas kitab tua di pangkuannya. “Wulan!” Rendra berteriak, berlari ke arahnya. Terlambat. Tubuh Wulan tiba-tiba menegang. Kepalanya tersentak ke belakang dengan cara yang tidak wajar. Matanya terbalik, hanya memperlihatkan bagian putihnya saja. Mulutnya terbuka lebar, mengeluarkan suara tawa yang bukan miliknya. “Kau pikir bisa mengahankanku?” suara serak perempuan tua keluar dari mulut Wulan. “Gadis bodoh ini memberikan darahnya dengan sukarela. Kini tubuhnya milikku.” Wulan berdiri dengan gerakan kaku. Ia melempar kitab tua itu ke sembarang arah, lalu berjalan menuju ke keranda dengan langkah tersehok-sehok.
“Tidak!” Rendra mengejar Wulan, menarik tangannya. “Wulan, kau harus melawan!” Wulan menoleh. Wajahnya berubah. Kulit di sekitar matanya mengelupas, memperlihatkan daging mentah yang menghitam seperti terbakar. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang menghitam. “Wulan sudah tidak ada,” suara serak itu kembali terdengar. “Aku Sukma Tanah Kubur, dan aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.” Dengan kekuatan tidak wajar, Wulan menghempaskan Rendra hingga terpental menabrak dinding. Rendra merasakan sakit luar biasa di punggungnya. Pandangannya kabur sesaat, namun ia melihat Ki Sembara Wungu tergeletak tidak bergerak di dekat pintu. Ki Jagabaya berjuang melawan dua warga desa yang menyerangnya.
Tiba-tiba, api menyala di beberapa titik di dalam balai desa. Rendra tidak tahu apa penyebabnya, mungkin lilin yang jatuh atau mungkin bagian dari ritual yang lepas kendali. Di tengah kekacauan itu, mata Rendra menangkap kitab tua yang tergeletak tidak jauh darinya. Ia merangkak, berusaha mencapainya sebelum api menyambarnya. “Kau tidak bisa menghentikanku, anak muda!” teriak sosok Wulan yang kini berdiri di samping keranda. Wajahnya semakin berubah, sebagian kulitnya mengering dan mengelupas, memperlihatkan daging hitam di bawahnya. “Malam ini aku akan mengambil semua jiwa di desa ini. Semuanya akan menjadi milikku!”
Rendra berhasil meraih kitab itu. Ia membukanya dengan tangan gemetar, mencari halaman yang berisi mantra pemusnahan. Api di sekitarnya semakin membesar. Asap hitam memenuhi ruangan. Dari balik asap muncul sosok perempuan lain, bukan Wulan. Seorang perempuan tua dengan tubuh hangus terbakar. Kulitnya hitam dan melepuh, sebagian tubuhnya masih menyala dengan api kebiruan. Matanya yang putih kontras dengan wajahnya yang menghitam. “Aku akan menghancurkanmu, Sukma Tanah Kubur!” bisik Rendra. Sosok itu melayang mendekatinya. Tangannya yang cacat terjulur siap mencengkeram. Rendra mundur, masih memegang kitab di tangannya.
“Baca mantranya!” teriak Ki Jagabaya dari kejauhan, masih berjuang melawan warga desa yang kerasukan. “Sekarang atau tidak sama sekali!” Dengan tangan gemetar, Rendra membuka halaman terakhir. Ia mulai membaca mantra pemusnah, mengulanginya berkali-kali. Suaranya terdengar lemah di tengah kekacauan, tertutup oleh suara jerit-jerit dari langit-langit dan teriakan orang-orang yang kerasukan. Sukma Tanah Kubur melayang semakin dekat. Hawa dingin memancar dari tubuhnya yang hangus, kontras dengan panasnya api yang mulai melahap balai desa. “Kau akan mati di sini seperti gadis bodoh itu!” “Wulan belum mati!” teriak Rendra, masih membaca mantra. “Dan kau tidak akan mendapatkan apapun malam ini!”
Rendra meraih mangkuk berisi darah Wulan yang tergeletak di dekatnya. Dengan gerakan cepat, ia melumuri tangannya dengan darah itu lalu menempelkannya pada keranda. “Dengan darah keturunannya, aku memanggil api suci untuk membakar arwahmu selamanya!” Rendra berseru, mengikuti petunjuk terakhir dalam kitab. Seketika, keranda itu menyala dengan api biru terang. Sukma Tanah Kubur menjerit. Tubuhnya seakan tertarik ke arah keranda. Wulan yang berdiri di dekatnya juga berteriak kesakitan, tubuhnya bergetar hebat. “Wulan!” Rendra berlari ke arahnya, menariknya menjauh dari keranda. Tapi sudah terlambat. Api biru dari keranda menjalar cepat ke seluruh ruangan, membakar apa saja yang disentuhnya.
Tubuh Sukma Tanah Kubur perlahan terhisap ke dalam keranda, menjerit dan meronta. Tangannya berusaha meraih siapa pun yang bisa dijangkau. “Kita harus keluar dari sini!” teriak Ki Jagabaya menarik lengan Rendra. “Balai desa akan runtuh!” Rendra menoleh ke arah Wulan yang masih tergeletak di lantai. Tubuhnya bergetar, matanya terpejam erat. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Wulan dan berlari keluar, diikuti oleh Ki Jagabaya yang menolong Ki Sembara Wungu. Mereka baru saja keluar dari balai desa ketika bangunan kayu itu sepenuhnya dilahap api. Kobaran api biru dan merah menari-nari menjilat tinggi ke langit malam. Jeritan Sukma Tanah Kubur masih terdengar dari dalam, semakin lama semakin lemah.
Warga desa yang tadinya kerasukan tiba-tiba tersadar, terjatuh ke tanah dengan tubuh lemas. Mereka bingung, tidak mengingat apa yang terjadi.
BAB VII FAJAR YANG BARU
Rendra membaringkan Wulan di tanah terbuka di depan balai desa. Wajah perempuan itu kembali normal, tidak ada lagi tanda-tanda kulit mengelupas atau menghitam. Namun, matanya tetap terpejam, tidak bergerak sama sekali. “Wulan, bangunlah!” Rendra mengguncang tubuhnya pelan. “Kumohon, bangunlah.” Tidak ada respons.
Ki Sembara Wungu yang sudah sadar menghampiri mereka, ia memeriksa denyut nadi Wulan dengan wajah muram. “Arwah Sukma Tanah Kubur sudah keluar dari tubuhnya, tapi kita tidak tahu apakah jiwa Wulan masih ada di dalamnya.” Rendra menatap puing-puing balai desa yang kini tinggal puing-puing terbakar.
Dari tengah puing, ia melihat keranda tua itu masih utuh, meski seluruh permukaannya menghitam. Api biru masih menyala-nyala di sekitarnya, tidak mau padam meski disiram air. “Apakah kita berhasil?” tanya Rendra. “Kurasa begitu,” jawab Ki Jagabaya. “Tapi dengan harga yang sangat mahal.”
Matahari mulai terbit di ufuk timur. Cahayanya yang keemasan menerangi puing-puing balai desa dan wajah-wajah lelah warga Desa Wening Pati. Api biru di sekitar keranda perlahan padam, meninggalkan asap putih tipis yang membumbung ke langit. Rendra masih duduk di samping tubuh Wulan, menggenggam tangannya yang dingin. Air mata mengalir di pipinya, jatuh menetes ke wajah perempuan yang masih terpejam itu.
Tiba-tiba, tangan Wulan bergerak lemah. Matanya perlahan terbuka, mengerjap menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi. “Rendra…” suaranya lemah, nyaris tidak terdengar. “Wulan, kau masih hidup!” Rendra memeluknya erat. “Apa yang terjadi?” tanya Wulan berusaha bangun. “Bayangannya sudah berakhir,” Rendra tersenyum lemah. “Kutukan itu sudah berakhir.” Di antara puing-puing balai desa, keranda tua itu masih berdiri tegak, menghitam dan rusak, namun tidak lagi menakutkan. Hanya sebuah benda mati yang kehilangan kekuatannya.
Rendra memandang matahari yang semakin tinggi. Untuk pertama kalinya, sejak ia tiba di Desa Wening Pati, pagi terasa begitu cerah dan hidup. Warga desa mulai keluar dari rumah mereka. Wajah-wajah lega menggantikan ketakutan yang selama ini membelenggu. “Bayangannya sudah lenyap,” bisik Wulan, menggenggam tangan Rendra erat-erat. “Tapi… apakah benar-benar sudah lenyap?” Rendra mengangguk yakin. Meski jauh di dalam hatinya, ia masih merasakan keraguan. Dari sudut matanya, ia melihat asap putih tipis dari puing keranda bergerak perlahan, membentuk sosok samar sebelum menghilang di balik cahaya matahari.
Tokoh & Perwatakan
- Rendra Baswara: Mahasiswa kota yang rasional, penasaran, dan awalnya skeptis. Ia adalah representasi logika yang berhadapan dengan dunia supranatural.
- Wulan Sarasvati: Gadis desa yang pendiam, kuat, dan lembut. Sebagai keturunan dukun, ia memegang kunci untuk mengakhiri kutukan dan menjadi pusat pertarungan antara kebaikan dan kejahatan.
- Sukma Tanah Kubur (Ratna): Antagonis utama. Arwah seorang dukun wanita yang dibakar hidup-hidup. Ia adalah sosok yang pendendam, manipulatif, dan haus akan kekuatan untuk bangkit kembali.
- Ki Jagabaya: Kepala desa yang bijaksana dan bertanggung jawab. Ia adalah pelindung desa yang dibebani oleh rahasia kutukan yang harus dijaga.
- Nyai Kinasih: Satu-satunya saksi hidup tragedi pembakaran Ratna. Ia adalah penjaga ingatan pahit dan pemberi petunjuk kunci bagi Rendra.
- Ki Sembara Wungu: Dukun desa yang memberikan peringatan awal kepada Rendra tentang bahaya yang mengintai di desa tersebut.
Leave a Reply