Selamat malam, pemirsa setia “Cerita Misteri”. Kembali bersama saya, sang pembisik misteri dari balik gelombang radio. Malam ini, kita akan menyelami sebuah kisah yang berasal dari nadi kehidupan modern, namun berakar kuat pada dunia yang tak kasat mata. Sebuah kisah tentang seorang pekerja keras yang hidup di era aplikasi, namun secara tak terduga dijungkirbalikkan oleh sebuah orderan dari alam lain. Kisah ini berawal di Desa Purnama Kelam, sebuah desa yang namanya sendiri sudah membawa nuansa mistis, di kawasan Parung.
BAB I ORDER GAIB DI TENGAH MALAM
Firman, begitulah nama sang tokoh utama. Seorang driver ojek online yang baru setahun menekuni profesi ini, mencari nafkah di antara sibuknya ibu kota dan pinggirannya. Malam itu, sekitar pukul setengah sembilan, Firman dan rekan-rekannya sedang berteduh di basecamp mereka di sekitar Jalan Jeruk. Hawa malam mulai mendingin, menandai waktu untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba, sebuah notifikasi berbunyi dari ponsel Firman. Sebuah orderan GrabFood masuk. “Ayam Bebek Cabe Ijo,” baca Firman. Alamatnya tertera di sebuah daerah yang asing baginya: Batok Tenjo, Parigi.
“Ini daerah mana, ya?” tanya Firman pada teman-temannya. Sebagian dari mereka hanya mengangkat bahu. Mereka juga tidak terlalu familiar dengan wilayah tersebut. “Bawa aja, Fir. Nanti juga sampai,” goda salah satu temannya. Firman ragu. Ponselnya menggunakan kartu Axis, dan ia khawatir sinyal akan hilang di tengah jalan, yang bisa berakibat pada orderan gagal dan suspensi akun. “Cemen lu, Fir! Takut sama yang ghaib?” ledek teman yang lain. Tertawa pecah di antara mereka. Tertawa yang, siapa sangka, akan menjadi pembuka gerbang petualangan mengerikan Firman.
Dengan sedikit tergesa-gesa dan menantang rasa takutnya, Firman menerima orderan itu. Diperkirakan perjalanan hanya sekitar 20-25 menit. Ia pun melaju dengan motornya, membelah malam. Sesampainya di titik lokasi yang dijanjikan, sebuah keanehan segera terasa. Peta di ponselnya mulai bergerak liar, hilang lalu muncul lagi. “Wah, bener kan, mapnya ilang,” gerutu Firman. Setelah beberapa kali putar arah, akhirnya ia menemukan sebuah bangunan yang disebut “Tempat Pengobatan Pak Haji Asep” dengan sebuah masjid di sebelahnya, persis seperti deskripsi di aplikasi. Firman pun menunggu. Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Tidak ada yang keluar. Ia mencoba menelepon nomor pemesan, namun tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua berpenampilan seperti seorang ustadz atau kyai, dengan sorban disampirkan di bahunya, mendekat. “Pak, maaf numpang tanya. Yang menunggu orderan di sini siapa ya?” tanya Firman. Lelaki tua itu hanya menatapnya sejenak, lalu menjawab singkat, “Nanti juga ketemu.” Firman bingung. Ia kembali menatap layar ponselnya, dan saat ia menoleh kembali, lelaki tua itu sudah lenyap. Tidak ada jejaknya sama sekali. Firman mulai merinding. Ia memutuskan untuk pergi, merasa ini adalah lelucon yang tidak lucu. Namun, saat ia berbalik arah, sebuah perasaan aneh menyergapnya. Leher nya terasa berat, seolah ada yang menatap dari kegelapan.
BAB II PENUMPANG SENJA PENUNJUK JALAN KELAM
Firman mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu. Ia memutuskan untuk singgah ke sebuah warung untuk membeli minuman dan menenangkan diri. Setelah minum dan merokok sebatang, ia kembali melaju. Kurang lebih 600 meter dari warung, sebuah sosok tiba-tiba muncul dari tepi jalan, membuatnya mengerem mendadak. Seorang perempuan mengenakan celana jeans dan jaket berbulu yang aneh untuk ukuran malam yang dingin. “Ojek, mau kemana, Teh? Antar saya yuk,” katanya dengan suara yang terdengar biasa.
Firman ragu. “Maaf, Teh, sudah malam. Lagian pake aplikasi aja, biar ada tarif dan petanya yang jelas.” Perempuan itu tampak sedikit kesal. “Udah, antarin aja. Nanti juga tahu kemana. Saya yang naik,” katanya tegas. Tanpa sadar, Firman mengiyakan. Perempuan itu naik ke boncengan, namun Firman merasakan hal aneh. Jok motornya terasa sangat berat, jauh lebih berat dari seharusnya, namun saat ia menoleh ke belakang, sosok perempuan itu tampak samar, tidak terlalu jelas wajahnya.
“Jalan lurus aja,” perintahnya. Firman pun melaju. Di tengah jalan, ia melihat sebuah rumah besar yang megah. Ia berhenti di depan gerbangnya. “Sudah sampai, Teh,” kata Firman. Perempuan itu turun, namun bukannya masuk ke gerbang, ia justru berdiri di sana sambil menatap Firman. Lalu, dari balik gerbang, muncul sosok lain. Seorang kakek dengan kumis tipis, berpeci hitam, mengenakan baju koko hitam dan celana yang mirip sarung. “Ini bukan saya yang naik tadi,” kata perempuan itu sebelum lenyap di balik kegelapan.
Firman benar-benar bingung. Kakek itu kemudian mendekat. “Mau kemana, Ki?” tanya Firman, mencoba tetap sopan. Kakek itu hanya menjawab singkat dalam bahasa Sunda, “Ulah loba,” yang artinya jangan banyak tanya atau jangan serakah. Ia naik ke boncengan, dan lagi-lagi, Firman merasakan bobot yang tidak wajar. “Mau kemana, Ki?” tanya Firman lagi. Kakek itu hanya menunjuk ke arah depan. “Lurus aja.”
BAB III PERJALANAN KE RUMAH YANG TAK ADA
Perjalanan malam itu semakin aneh. Jalan yang dilalui Firman awalnya mulus, namun tiba-tiba berubah menjadi tanah merah yang berlubang, membuat motornya terguncang-guncang keras. “Ki, maaf, jalan begini motor saya hancur,” protes Firman. Kakek di belakangnya tetap diam, hanya sesekali mendesis, “Pajajaran.” Firman semakin bingung. Ia merasa mengenai medan ini, mirip dengan daerah BSD, namun kakek itu membantahnya. “Bukan BSD. Ini Pajajaran. Ulah loba!”
Lanskap di sekitar mereka semakin menyeramkan. Mereka melewati rumah-rumah yang tampak terbengkalai, seperti kobong-kobong tempat pengajian di masa lalu, yang kini hanya tinggal puing. Di pinggir jalan mengalir sebuah kali yang airnya terlihat hitam pekat. Yang paling mengerikan, tidak ada satu pun orang yang terlihat di jalanan. Hening, hanya ada suara mesin motor Firman dan angin yang berdesir di antara pohon-pohon yang rindang.
Tiba-tiba, kakek itu menyuruh Firman berhenti di depan sebuah padepokan. Dari dalam, keluar seorang pria bertubuh kekar, membawa tombak dan perisai bulat. Pria itu marah-marah kepada Firman dengan bahasa Sunda yang kasar, seolah-olah Firman telah melanggar wilayahnya. Firman yang juga memiliki basic pencak silat, merasa tersinggung dengan adab pria itu. “Saya cuma nganter penumpang, Ki. Adabnya mana?” bentak Firman. Situasi hampir memanas, namun tiba-tiba ponsel Firman berdering. Sebuah nomor tak dikenal. Saat ia angkat, suara perempuan tadi, Eneng, terdengar di seberang. “Balik lagi. Ki Askar gering,” katanya, sebelum putus.
“Gering?” tanya Firman pada kakek itu. Kakek itu, yang kini diketahui bernama Ki Askar, hanya menjawab singkat, “Neng gering. Balik.” Mereka pun berbalik arah. Di tengah perjalanan, Firman merasakan angin kencang tiba-tiba bertiul, membawa aroma wangi yang tidak biasa, seperti bunga-bunga kuburan. “Ki, kalau saya ke sini lagi, siapa nama saya sebutkan?” tanya Firman penasaran. Ki Askar tersenyum tipis. “Ki Askar. Ntar juga kamu banyak dicariin orang.” Lalu, ia menambahkan, “Cucu-cucu Ki di sini banyak dikenal orang.”
Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah rumah besar lagi. Rumah itu tampak megah dengan gapura besar di depannya. Firman memarkir motornya. Ia menunggu pembayaran. Ki Askar turun dan memberikan beberapa lembar uang kertas. “Ini 150. Ki tambah 35 jadi 185. Kalau kelebihan, balikin ya,” katanya. Firman menerima uang itu. Dalam kegelapan, ia tidak bisa melihat jelas, namun ia merasakan tekstur uang itu aneh. Setelah Ki Askar masuk ke dalam “rumah”, Firman pun pergi.
BAB IV GANGGUAN DAN MIMPI MENAKUTKAN
Firman yang merasa kejadian itu aneh, berhenti di sebuah warung kopi yang ramai oleh pemuda-pemuda setempat. Ia menghitung uang yang diterimanya. “Wah, ini 200 ribu,” katanya. Ingatannya pada pesan Ki Askar membuatnya ragu. Ia bertanya pada pemuda-pemuda itu. “Bang, mau tanya. Rumahnya Ki Askar yang paling gede itu yang mana ya?” Para pemuda itu saling pandat. “Ki Askar? Siapa itu, Bang? Nggak ada yang namanya Ki Askar di sini. Yang ada itu kuburan,” jawab salah satu dari mereka sambil tertawa.
Firman tidak percaya. “Mana mungkin? Saya tadi antar ke rumah gede.” Para pemuda itu justru mengolok-oloknya. “Abang ini ngapain di tengah kuburan sih?” Firman masih keras kepala. Seorang ustadz yang kebetulan ada di situ ikut bicara. “Ayo, saya buktikan. Kalau memang ada rumah gede, saya traktir.” Mereka pun berjalan ke arah yang ditunjuk Firman. Firman yakin akan menunjukkan rumah itu. Namun, saat ia menoleh ke arah yang ia yakini ada rumah megah itu, yang ia lihat hanyalah sebuah lahan kosong di tengah-tengah kompleks pemakaman. Tidak ada rumah. Tidak ada gapura. Hanya ada batu nisan dan pepohonan yang menyeramkan di bawah cahaya bulan.
Firman membeku. Ia merasakan kedinginan yang luar biasa. Ustadz itu menepuk bahunya. “Sekarang percaya, Nak?” Firman menggeleng. Ia membuka dompetnya untuk membuktikan, namun yang keluar dari tangannya bukanlah uang kertas. Itu adalah segenggam daun kering. “Daun… ini tadi uang,” kata Firman dengan suara bergetar. Orang-orang di sekitarnya menjadi heboh. Beberapa bahkan menawarinya uang tinggi untuk daun itu, menganggapnya sebagai jimat. Firman yang sudah linglung, akhirnya pulang dengan perasaan hancur.
Sesampainya di rumah, istrinya, Wulan Sarasvati, kaget melihat kondisinya. Firman hanya duduk termenung di depan pintu, pandangan kosong. Ia tidak merespon panggilan istrinya. Wulan pun menelepon teman Firman, Gus Wawan, seorang pemuda yang dianggap lebih paham soal hal-hal gaib. Gus Wawan datang dan langsung merasakan energi yang tidak biasa di rumah itu. Tiba-tiba, Firman yang sedang tiduran, bangun dan berbicara dengan suara yang berbeda, suara yang lebih tua dan serak. “Maaf… saya anggap ini cucu saya… saya mau tolong…” kata Firman dengan suara Ki Askar. Anaknya yang masih kecil, Lintang Sukma Pertiwi, menangis ketakutan dan menunjuk ke sudut ruangan. “Aku takut, Bund. Ada kakek di sana.”
Gus Wawan memimpin doa, dan setelah beberapa saat, Firman pingsan. Saat sadar, ia tidak ingat apa-apa. Namun sejak malam itu, Firman tidak pernah lagi damai. Setiap malam, ia bermimpi didatangi Ki Askar. Dalam mimpinya, Ki Askar selalu mengulang kata-kata yang sama, “Ulin, Ceng… Ulin,” yang artinya “Main, Fir… Main.” Ki Askar bahkan menunjukkan kepadanya sebuah rumah baru yang berwarna biru, katanya dibangun pada Januari 1990. Firman menjadi lemah, panas dingin, dan tidak bisa bekerja. Kisahnya pun viral, namun bukan membuatnya lega, justru menambah beban psikologisnya.
BAB V ZIARAH KE PETILASAN JAGAL WENGI
Setelah berminggu-minggu disiksa oleh mimpi dan kelemahan fisik, Firman, Gus Wawan, dan beberapa temannya lainnya memutuskan untuk mengambil langkah ekstrem. Mereka akan mencari makam Ki Askar. Berdasarkan deskripsi dalam mimpi, mereka menuju sebuah kompleks pemakaman tua yang oleh warga sekitar disebut Petilasan Jagal Wengi. Mereka bertemu dengan seorang kuncen tua dan menjelaskan apa yang mereka cari: sebuah makam dengan nama Ki Askar, dan sebuah makam biru yang dibangun pada Januari 1990.
Kuncen itu mengernyitkan dahi. “Ki Askar? Nama itu tidak asing, tapi sudah lama sekali. Mari saya coba carikan.” Sang kuncen mengajak mereka berkeliling kompleks pemakaman yang luas dan lembab itu. Setelah sekian lama berjalan di antara nisan-nisan yang sudah ditumbuhi lumut, sang kuncen berhenti di depan sebuah makam yang terlihat lebih terawat. “Ini dia,” katanya. Jantung Firman berdegup kencang. Di atas batu nisan itu, terukir jelas nama: KI ASKAR. Dan di bawahnya, tertulis tanggal meninggal: Januari 1990. Yang paling membuat mereka merinding, makam itu dicat dengan warna biru tua, persis seperti dalam mimpi Firman.
Semua keraguan sirna. Semua ketidakpercayaan runtuh. Firman dan teman-temannya benar-benar berdiri di depan makam pria yang telah mengganggu tidurnya berminggu-minggu. Mereka pun membacakan Al-Fatihah dan berdoa, memohon agar arwah Ki Askar tenang dan tidak lagi mengganggu Firman. Setelah ziarah, Firman merasa tubuhnya sedikit lebih ringan. Mimpi-mimpi itu tidak sepenuhnya hilang, namun intensitasnya berkurang. Ki Askar masih terkadang muncul dalam mimpinya, namun kini ia tidak lagi menakut-nakuti, hanya tersenyum dan kadang mengucapkan “Nuhun,” yang artinya terima kasih.
Kisah Firman menjadi pelajaran bagi semua orang. Bahwa di antara hiruk pikuk dunia modern, ada pintu-pintu gaib yang bisa terbuka kapan saja. Bahwa sebuah tindakan baik, seperti mengantar seorang kakek di malam hari, bisa membawa seseorang ke perjalanan yang tak pernah terbayangkan. Dan bahwa daun-daun kering yang dibawa Firman, bukanlah sekadar daun, melainkan sebuah pesan dari dunia lain. Sebuah panggilan. Sebuah bayaran dari sebuah perjalanan ke kuburan. Sebuah kisah yang akan selalu diingat oleh siapa pun yang mendengarnya, setiap kali mereka melihat sehelai daun jatuh di malam hari.
Tokoh dan Watak
- Firman: Tokoh utama, seorang driver ojek online yang awalnya skeptis dan ragu, namun keberanian dan rasa penasarannya membawanya ke dalam petualangan mengerikan yang mengubah pandangannya tentang dunia gaib.
- Ki Askar: Arwah utama, seorang kakek yang disebut “Jagal Wengi”. Ia terlihat menakutkan dan mengganggu, namun sebenarnya ia menganggap Firman sebagai cucunya dan hanya ingin “bermain” (ulin). Ia adalah sosok yang berkuasa di alamnya.
- Eneng: Sosok perempuan gaib yang bertindak sebagai perantara atau pembuka jalan. Ia meminta tolong untuk Ki Askar dan memandu Firman di awal perjalanan sebelum menyerahkannya kepada Ki Askar.
- Wulan Sarasvati: Istri Firman. Ia adalah sosok yang perhatian, peduli, dan sigap dalam mencari bantuan saat melihat suaminya berubah drastis akibat teror gaib.
- Gus Wawan: Teman Firman yang dianggap paham soal hal-hal mistis. Ia berperan sebagai penolak bala, penasihat, dan pemimpin dalam upaya mencari makam Ki Askar untuk menyembuhkan Firman.
- Lintang Sukma Pertiwi: Anak kecil Firman yang masih polos. Ia memiliki indra keenang yang tajam, mampu melihat kehadiran sosok Ki Askar di rumahnya, yang menjadi salah satu bukti nyata teror yang dialami Firman.
Tag:
#PanggilanDaunKuburan #Horor #Misteri #KisahNyata #CeritaHantu #OjekOnline #DriverOnline #Grab #Gojek #UangJadiDaun #OrderGaib #KiAskar #KakekMisterius #Arwah #Hantu #Kuburan #MakamKeramat #HororIndonesia #MistisJawa #Penampakan #UrbanLegend #Supranatural #Kuntilanak #Leluhur #Viral #KisahViral #PengalamanPribadi #Seram #Merinding
Leave a Reply