Selamat malam, teman-teman pembaca setia Berita Mistis di mana pun kalian berada. Kembali lagi dengan saya, yang akan menemani kalian di tengah malam yang sunyi ini dengan sebuah kisah yang mungkin akan membuat kalian berpikir dua kali untuk memotong jalan saat larut malam. Kisah ini kami ambil dari sebuah pengalaman, sebuah perjalanan yang seharusnya biasa, namun berujung pada sebuah petualangan melintasi batas yang tak terlihat. Sajikan secangkir kopi hangat kalian, rapatkan selimut, dan mari kita masuk ke dalam kisah tentang Jaka Prasetya.
BAB I Perjalanan Malam
Jaka Prasetya adalah seorang pria biasa yang bekerja sebagai desainer interior di Surabaya. Malam itu, lelah sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Seorang rekannya jatuh sakit, membuatnya harus lembur berhari-hari, menumpuk deadline yang seharusnya bukan tanggung jawabnya semata. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari ketika Jaka akhirnya memutuskan untuk pulang. Rasa lelah itu terasa di setiap otot, pikirannya berkabut, namun ada satu dorongan yang lebih kuat dari kantuk yang membelenggu: kerinduan pada sang istri, Ratri Wulandari, yang tengah hamil tua di Gresik. Cinta memang seringkali membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak logis, termasuk mengendarai motor di tengah malam buta.
Biasanya, Jaka akan menginap di kosnya, tapi malam itu, rindunya tak tertahankan. Ia memilih jalur alternatif, sebuah jalan tikus desa yang lebih sepi. Jalanan itu memangkas waktu perjalanan hingga 30 menit. Di sebelah kiri, hamparan sawah terbentang sunyi di bawah rembulan yang tertutup awan. Di sebelah kanan, sebuah sungai besar mengalir tenang, nyaris tanpa suara. Deretan pohon bambu berdiri rapi di tepiannya, daun-daunnya bergoyang lembut ditiup angin dini hari, menciptakan suara berdesir yang aneh dan menggetarkan hati.
Jaka melajukan motornya, sesekali mengusap wajahnya agar tetap terjaga. Tiba-tiba, langit yang tadinya hanya mendung berat, menurunkan rintik-rintik hujan. “Aneh, bukan musim penghujan kok gerimis?” keluh Jaka dalam hati. Hujan semakin deras, memaksa Jaka berhenti sejenak untuk memasukkan ponselnya ke dalam tas. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 01:12 dini hari.
Ia kembali melajukan motornya, sedikit lebih cepat kali ini. Bayangan akan berita begal yang sering muncul di TV tiba-tiba muncul di kepalanya, membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Tidak lama kemudian, sebuah kabut mulai menyusup dari kejauhan. Kabut itu bukan kabut biasa. Ia bergerak dengan aneh, seolah memiliki kehidupan sendiri, makin mendekat lalu menelan jalan di depan Jaka dengan utuh. Pandangannya menjadi terbatas, bahkan untuk melihat ujung stang motornya sendiri pun sulit.
Jaka merasa ragu, namun ia hafal betul jalur ini. Tidak ada persimpangan sejak beberapa kilometer terakhir. Ia memutuskan untuk terus maju pelan, berharap jalannya lurus. Tiba-tiba, matanya terbelalak kaget. “Astagfirullah,” teriaknya reflek. Ia mengedipkan matanya berulang kali. Roda motornya… rasanya tidak menapak jalan. Sensasinya seperti melayang rendah di antara kabut tebal. Rasa panik mulai merayap, namun ia berhasil menekannya, terus melaju dengan keyakinan bahwa ini hanyalah ilusi.
Lalu, seolah disedot oleh sebuah kekuatan tak terlihat, kabut itu menguap dengan tiba-tiba. Jaka menghembuskan nafas panjang. “Aku pasti salah lihat. Rodanya kan menempel jalan,” bisiknya. Tapi ketika ia menatap ke depan, keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Jalanan di depannya begitu gelap. Tidak ada cahaya lampu kota, tidak ada cahaya lampu rumah, tidak ada apa-apa selain sorot lampu motornya yang seolah ditelan oleh kegelapan yang pekat. Ini adalah gelap yang berbeda, gelap yang memiliki berat dan tekanan.
Jaka terus memacu gas, tidak berani berhenti. Di kejauhan, ia melihat siluet sebuah pohon besar yang menjulang tinggi di sebelah kiri. Batangnya terlihat sangat tebal, seolah dibutuhkan tiga orang dewasa untuk memeluknya. Ranting-rantingnya yang menjuntai terlihat seperti tangan-tangan kering yang menggigil di tengah malam. Jaka merinding, ia mempercepat laju motornya, menolak untuk menoleh pada pohon yang entah mengapa terasa sangat hidup itu.
BAB II Desa Tanpa Waktu
Tidak lama setelah melewati pohon besar itu, Jaka melihat sebuah cahaya redup di kejauhan. Sebuah kampung. “Alhamdulillah,” leganya. Ia memacu motornya lebih cepat, berharap bisa bertanya arah. Namun, ketika ia tiba di deretan rumah tersebut, kebingungan yang lebih besar menyergapnya. Semua rumah di sana terbuat dari anyaman bambu dengan atap daun kelapa. Cahaya yang terlihat bukan dari lampu listrik, melainkan dari lampu templok yang menggantung di teras. Tidak ada satu pun bangunan modern. Seolah waktu di kampung ini telah berhenti berabad-abad yang lalu.
Yang lebih aneh, kampung itu sunyi senyap. Tidak ada suara, tidak ada orang yang lalu lalang, semua pintu dan jendela tertutup rapat. “Ah, iya. Ini sudah malam sekali. Pasti semua warga di sini tertidur,” kata Jaka pada dirinya sendiri, mencoba masuk akal. Ia memperlambat motornya, matanya menyisir setiap sudut rumah, berharap ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada. Di kejauhan, telinganya menangkap sebuah alunan musik gamelan yang lembut dan melankolis, disertai suara sinden yang melantunkan tembang Jawa. Suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang menyentuh langsung ke tulang. “Hajatan, berarti masih ada orang,” gumam Jaka, semangatnya kembali bangkit. Ia memacu motornya menuju sumber suara, menuju sebuah kampung yang seharusnya tidak ada di peta manapun.
Di depan sebuah gubuk yang sedikit lebih besar dari yang lain, ia melihat seorang kakek berdiri. Kakek itu mengenakan udeng di kepalanya dan baju serta celana longgar khas petani Jawa. Ia tersenyum ramah kepada Jaka, sebuah senyuman yang tidak sepenuhnya mencapai matanya.
“Le, sebenarnya kamu ada apa dan sedang apa?” tanya kakek itu dengan suara yang berwibawa.
“Oh, Pak, terima kasih jenengan ada di sini. Aku benar-benar bingung. Mungkin kulo tersesat, Pak. Sebenarnya saya mau ke Gresik, tapi entah kenapa saya mengambil jalur alternatif lalu sampai di sini,” jawab Jaka dengan cepat.
Kakek itu tidak menjawab, matanya menyelidiki Jaka dari atas hingga ke bawah. “Pak, maaf apakah Bapak mendengar saya?” tanya Jaka bingung.
“Walah, Le, kamu tersesat. Kalau begitu kamu pasti lelah. Mari masuk. Masuk ke gubuk saya dulu,” kata kakek itu, menuntun Jaka masuk. Di dalam gubuk, kakek itu menawarinya makanan singkong rebus. Karena lapar dan lelah, Jaka menerima tawaran itu.
Setelah makan, Jaka bertanya, “Lalu, Pak, bisakah Bapak tunjukkan arah mana agar saya bisa pulang?”
Kakek itu menarik nafas panjang sebelum bicara. “Le, kamu itu sekarang berada di dunia yang lain, berada di dimensi yang lain. Ini bukan alammu, Nak.”
Jantung Jaka serasa copot. Badannya gemetar. “Maksudnya bagaimana, Pak? Ini bukan dunia saya lagi?”
Tiba-tiba, semua keanehan yang ia alami terasa masuk akal. Ia terbayang wajah Ratri, kehamilannya, dan bayi yang dinantinya. “Lalu, Pak, apa saya bisa pulang? Tolong saya, Pak. Saya benar-benar hanya ingin bertemu istri saya,” pintanya dengan suara bergetar.
“Bisa, Le. Kamu anak baik,” kata kakek itu, lalu mengambil sebuah batu hitam yang sangat berkilat dari sakunya. “Pegang ini, Nak. Ini akan membantumu untuk pulang. Nanti ketika kamu pulang, batu ini jangan sampai terjatuh. Tapi ada satu syarat. Ketika kamu melewati semua ini, kamu tidak boleh menengok ke belakang dan berhenti. Walau apapun yang mengganggumu, kamu harus tetap melajukan motormu lurus. Ingat, Le, kalau kamu melanggar pantangan itu, maka kamu akan selamanya di sini.”
Jaka mengangguk patuh, menerima batu itu dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya. “Baik, Pak. Matur nuwun.”
BAB III Larangan di Tengah Kabut
Jaka keluar dari gubuk itu, mencium tangan kakek itu dengan takzim. Ia tahu, kakek itu bukan manusia biasa. Ia segera menghidupkan motornya, dan dari kaca spion, ia melihat kakek itu tersenyum mengantarnya pergi.
Kali ini, saat Jaka melaju kembali melewati deretan rumah gubuk, kampung itu tidak lagi sepi. Setiap halaman rumah kini ada aktivitasnya. Ada anak-anak yang bermain, seorang perempuan yang menyisir rambutnya, seorang kakek yang duduk termangu, bahkan di sebuah halaman ia melihat dua kereta kencana lengkap dengan kudanya. Jaka hanya bisa melihat semua itu lewat pantulan kaca spion tanpa berani menoleh. Ia fokus lurus ke depan, gemetar ketakutan, namun bayangan wajah Ratri terus memberinya kekuatan.
Ia kembali melewati jalan yang gelap gulita, lalu pohon besar yang tadi di kirinya kini ada di sebelah kanannya. Ia memacu motornya lebih cepat. Akhirnya, ia tiba di titik di mana kabut pekat menyelimuti jalan. Ia merasa lagi-lagi motornya seperti melayang. Rodanya benar-benar tidak menapak jalan. Ia berzikir dan berdoa dengan sekuat tenaga, berharap kabut itu segera hilang.
Setelah apa yang terasa seperti selamanya, kabut itu akhirnya sirna. Jaka bisa merasakan roda motornya kembali menapak aspal. Ia mengenali tempat ini. Ini adalah titik awal ia memasuki jalur alternatif tadi. Ia segera melarikan motornya menuju sebuah masjid yang tidak jauh dari sana. Tidak lama kemudian, azan subuh berkumandang. Jaka segera mengambil wudlu, melupakan semua kejadian aneh tadi, hanya merasakan kelelahan yang luar biasa.
BAB V Mimpi dan Penyebabnya
Jaka membuka matanya perlahan. Ia heran karena yang ia lihat adalah plafon putih dan mencium bau obat yang menyengat. Ia kini berada di sebuah rumah sakit. Seorang dokter dan seorang polisi berada di sampingnya.
“Pak, Anda dari mana dan sedang apa tadi?” tanya polisi itu.
Mata Jaka terlihat kosong dan bingung. “Saya… saya tersesat, Pak,” jawabnya pelan.
Polisi itu menghembuskan nafas kecewa. Jaka ditemukan tertidur pingsan di sebuah pos ronda di sebuah desa. Motornya ada di sana, tidak ada luka, tapi ia tidak bisa dibangunkan. Yang lebih mengejutkan, ia ditemukan di Ponorogo, sebuah kota yang berjarak 220 km dari Surabaya, bahkan lebih jauh lagi dari Gresik. Jaka telah hilang selama tiga hari.
Di rumah sakit, Jaka hanya bisa menjawab “saya tersesat” atau “saya tidak tahu” untuk setiap pertanyaan. Ingatannya tentang peristiwa itu seolah terkunci rapat, hanya menyisakan rasa bingung dan ketakutan. Berbekal ponselnya, polisi akhirnya menghubungi Ratri dan keluarganya. Ratri terisak melihat keadaan suaminya yang linglung. Jaka pun cuti karena sakit, namun keadaannya tidak kunjung membaik. Ia sering termenung, dan jika ditanya, jawabannya selalu sama. Akhirnya, atas saran tetua desa, Ratri membawa Jaka untuk dirukiah oleh seorang ustaz. Pengobatan secara rukiah perlahan membawa dampak baik. Jaka mulai bisa berbicara banyak, fokusnya kembali, dan matanya tidak lagi kosong. Ia pun kembali bekerja di kantor cabang baru di Gresik, sehingga tidak perlu jauh dari Ratri. Namun, ada yang aneh dengan rumah mertuanya sejak Jaka pulang. Sesuatu yang gelap dan tak kasat mata ikut serta dalam kepulangannya.
Suasana mencekam itu dimulai secara perlahan. Suatu malam, Ratri sedang duduk di depan meja rias. Di cermin, ia melihat sebuah kilatan bayangan melintas di belakangnya. Ia membeku, lalu menoleh cepat. Lorong di balik pintu kamar kosong. Tapi ketika ia menatap lagi ke cermin, ia melihat sesosok perempuan berambut panjang dengan gaun putih kusam berdiri di ujung lorong. Kepala perempuan itu miring secara tidak wajar, matanya yang hitam menatap tanpa berkedip. Ratri ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia menoleh lagi ke lorong, dan sosok itu lenyap. Malam itu, lampu kamurnya tidak dimatikan, dan Ratri tidak bisa tidur.
Beberapa hari kemudian, adik Ratri, Dita, yang pulang malam, melihat sebuah sosok kakek bungkuk dengan pakaian kusam berdiri di bawah pohon mangga di halaman. Yang membuat Dita membeku adalah cara kakek itu menoleh. Lehernya berputar dengan gerakan yang sangat kaku dan tidak alami. Wajahnya pucat dan matanya kosong menatap lurus ke arah Dita. Dita baru bisa bergerak setelah sosok itu menghilang di balik bayangan pohon. Ia langsung menggedor pintu rumah dengan ketakutan.
Ayah Ratri, Pak Mulyono, juga mulai mengalami hal aneh. Setiap malam, ia mendengar suara ketukan pelan, “tok… tok… tok…”, yang datang dari arah yang berbeda-beda. Kadang dari pintu, kadang dari lemari, kadang dari langit-langit kamar Jaka. Suara itu selalu tiga kali, lalu hilang. Pak Mulyono tidak lagi berani mencari sumbernya, ia hanya duduk di ruang tamu dengan lampu menyala penuh, sambil memegang tasbih dan membaca ayat kursi tanpa henti.
Rumah itu menjadi tempat yang mencekam. Setiap anggota keluarga diganggu oleh makhluk gaib yang berbeda-bentuk. Yang aneh, hanya satu orang yang tidak pernah diganggu: Jaka Prasetya.
“Kenapa cuma Mas Jaka yang tidak diganggu?” tanya Dita suatu hari dengan suara bergetar.
Jaka hanya bisa tersenyum kebingungan. “Aku juga tidak tahu, Dik. Mungkin mereka baik padaku.”
Tapi semua orang tahu, ini tidak biasa. Kegelisahan mereka semakin menjadi. Jaka, yang menjadi pusat dari semua kejadian ini, justru menjadi satu-satunya yang aman.
Pada malam ketujuh setelah kepulangannya, Jaka bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjalan di jalan tanah yang basah dan berkabut. Ia bertemu lagi dengan kakek tua yang menolongnya.
“Kamu bawa sesuatu, Le?” tanya kakek itu.
“Nyuwun sewu, Pak. Bawa apa?”
“Benda dari alam kami. Bungkus benda itu dengan kain kafan dan kubur di bawah pohon besar di pemakaman Desa Gending. Kalau tidak, mereka akan datang terus.”
Jaka terbangun dengan nafas menderu dan keringat bercucuran. Kalimat “mereka akan datang terus” terus bergema di telinganya. Ia segera membangunkan Ratri.
“Intan, mana tas selempangku? Yang aku pakai saat itu.”
Setelah dibuka, di dalam tas itu tergeletak sebuah batu sebesar kepalan tangan. Batu itu tidak lagi hitam mengkilap seperti yang Jaka ingat, tapi kusam dan kotor. Saat Jaka menggenggamnya, lampu kamar berkedip lalu padam. Sebuah dingin yang menusuk menyergap ruangan.
“Ini… ini penyebabnya,” bisik Jaka.
BAB VI Pengembalian ke Tempat Asal
Pagi harinya, Jaka menceritakan mimpinya pada mertuanya. Pak Mulyono lalu mengundang Ustaz Hafiz, yang biasa merukiah Jaka. Mendengar cerita Jaka, Ustaz Hafiz manggut-manggut. “Aku pernah dengar hal seperti ini. Batu ini bukan sembarang batu. Ini adalah penghubung. Mereka datang karena mereka mengira Nak Jaka ingin bersekutu. Kamu harus menuruti perintah kakek itu,” kata Ustaz Hafiz.
Keesokan harinya, Jaka, didampingi Ustaz Hafiz dan Pak Mulyono, pergi ke pemakaman di Desa Gending, Nganjuk. Jantung Jaka berdegup kencang ketika ia melihat sebuah pohon besar di pemakaman itu. Pohon itu persis sama dengan pohon besar yang ia lihat saat tersesat di kampung misterius itu. Ustaz Hafiz memimpin proses penguburan batu itu. Batu hitam itu dibungkus dengan kain kafan dan dikuburkan di bawah pohon. Setelah selesai, Ustaz Hafiz menepuk pundak Jaka. “Kamu harus banyak memohon ampun dan mengirimkan Al-Fatihah untuk sosok yang telah menolongmu.”
Ustaz Hafiz menunjuk ke sebuah makam yang paling rapi dan terawat di sana. “Itulah makam Sesepuh Desa Gending, Muhammad Bandi. Tadi, aku melihat sosok kakek yang menolongmu berdiri di samping makam ini. Dia tersenyum melihatmu.”
Jaka menatap makam itu dengan penuh rasa hormat. “Matur suwun, Mbah. Terima kasih telah menyelamatkan saya.” Seolah mendengar, sebuah daun kamboja jatuh perlahan di sampingnya. Beberapa hari kemudian, suasana di rumah Pak Mulyono kembali normal. Tidak ada lagi suara ketukan, tidak ada lagi bayangan aneh di cermin. Rumah itu kembali terasa hangat dan penuh kedamaian. Jaka rutin mengirimkan doa untuk makam Sesepuh Muhammad Bandi. Tidak lama setelah itu, Ratri melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan gagah. Kebahagiaan itu menjadi penutup dari segala kegelisahan yang telah mereka lalui. Jaka Prasetya telah kembali dari Lingsir Purnama Larang, membawa pulang sebuah pelajaran bahwa terkadang, pertolongan bisa datang dari sumber yang paling tak terduga, namun selalu ada harga yang harus dibayar.
Tokoh dan Perwatakan
- Jaka Prasetya: Protagonis utama. Seorang pria biasa yang pekerja keras dan sangat mencintai istrinya. Perwatakannya yang awalnya biasa saja berubah menjadi ketakutan, bingung, dan trauma setelah pengalamannya di dimensi lain. Ia juga menunjukkan rasa hormat dan taat saat menerima petunjuk dari sang kakek.
- Ratri Wulandari: Istri Jaka yang sedang hamil tua. Ia adalah motivasi utama perjalanan Jaka. Perwatakannya penyayang, setia, dan sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Ia juga menjadi salah satu korban gangguan gaib yang ikut dibawa pulang Jaka.
- Kakek (Sesepuh Muhammad Bandi): Penolong misterius Jaka di desa antah berantah. Perwatakannya khas orang tua Jawa: berwibawa, tenang, bijaksana, dan bicaranya penuh teka-teki. Ia adalah penjaga batas antar dimensi yang ternyata adalah arwah baik dari sesepuh desa.
- Ustaz Hafiz: Tokoh yang memberikan solusi spiritual. Perwatakannya berpengetahuan luas tentang hal-hal gaib, tenang, dan percaya diri dalam menangani masalah supranatural yang dialami Jaka dan keluarganya.
- Pak Mulyono dan Dita: Mertua dan adik ipar Jaka. Mereka mewakili keluarga yang terkena imbas dari kejadian yang dialami Jaka. Perwatakan mereka digambarkan ketakutan dan was-was dengan gangguan-gangguan aneh di rumah mereka.
Leave a Reply