Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam, para penjelmalam sunyi di Syaiflash Channel, dan salam penuh rahasia bagi para pembaca setia syaiflash dot com. Kembali lagi kita berdiri di tepian kegelapan, menyimak bisikan angin yang membawa kabar duka dari tanah para leluhur.
Malam ini, izinkan aku menuntun kalian menatap ke arah utara, pada sebuah jalur hitam yang membelah hutan belantara. Tol Cipularang… nama itu seolah tersiram tinta merah di atas aspal. Bukan sekadar jalan penghubung antara Jakarta dan Bandung, lebih dari itu, ia adalah urat nadi yang mengalirkan darah kecelakaan maut. Kita semua masih mengingat betapa traumatis berita-berita yang menyelimutinya. Tragedi maut yang merenggut nyawa perwira TNI dari Kodam Siliwangi, atau kecelakaan yang memisahkan nyawa istrinya pedangdut Saipul Jamil dari peluk suaminya, hingga belasan korban lainnya yang meregang nyawa di KM 97. Tak hanya manusia, konon roh-roh penas pun merajalela di sana.
Di balik lengkungan tajam jalur tol yang berkelok itu, berdiri tegak sebuah bukit hijau keabu-abuan yang tak berani diterobos oleh mesin pembangun. Gunung Hejo. Tempat di mana alam gaib terasa begitu nyata. Malam ini, kisah akan kita buka, bukan sekadar tentang kecelakaan mobil, tetapi tentang perjanjian-perjanjian hitam yang dibungkam angin malam. Kisah tentang serakah manusia yang rela menyerahkan darah tumbal kepada penghuni lembut bukit tersebut. Mari kita dengarkan dengan segenap rasa, karena malam ini, rasa takut adalah sahabat kita satu-satunya.
BAB I: TAMU PEMBAWA BEBAN HIDUP
Angin sore di Desa Darangdan bertiup kencang, tidak membawa kesejukan, melainkan membawa bau tanah yang basah dan aroma bunga kamboja yang menyengat hidung. Dani, pria paruh baya yang memiliki luka kelam di masa lalu, sedang duduk terdiam di serambi rumahnya yang tua. Langit berwarna ungu tua, seolah akan mencurahkan hujan darah.
Dari kegelapan pepohonan, muncul sosok yang berjalan tertatih-tatih. Langkahnya terdengar berat, menyeret beban yang tak kasat mata. Itu adalah Amir, sahabat lama Dani dari Subang. Wajah Amir pucat pasi, matanya cekung, dan pakaian lusutnya menempel di tubuh yang kurus kering. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja berjalan melewati pintu neraka.
Dani mempersilakan Amir masuk tanpa suara. Di dalam rumah yang remang-remang itu, Amir duduk dengan tubuh yang gemetar. Ia bercerita tentang kehidupannya yang hancur berkeping-keping. Istrinya, Wiwin, janda beranak satu yang dinikahinya. Usaha warung makan pinggir Pantura yang dulu ramai, kini sepi seperti kuburan. Rumah tempat mereka bernaung terancam disita bank karena utang yang menumpuk bak gunung.
“Kang, saya sudah tidak sanggup lagi,” bisik Amir dengan suara serak, seperti debu jalanan. “Saya sudah datang ke kyai, ke dukun, tidak ada yang bisa menolong. Tolonglah Akang. Saya tahu Akang mengenal jalan pintas.”
Dani menatap Amir dalam gelap. Ia bisa mencium bau kematian di tubuh sahabatnya itu. “Miris, jangan-jangan kau maksud mencari pesugihan?”
Amir mengangkat wajahnya, mata bersinar aneh—campuran antara putus asa dan nafsu serakah. “Kalau perlu, Kang. Apapun jalannya. Dosanya saya yang pikul, Akang jangan ikut campur.”
Dani mencoba menasihati, menceritakan bahwa pesugihan adalah pintu menuju kehancuran abadi. Tapi Amir sudah tuli oleh bisikan setan keputusasaan. Ia mendesak, merajuk, bahkan mengiba dalam histeris yang tertahan. Hati Dani, yang sudah lelah melihat penderitaan sahabatnya, akhirnya goyah.
BAB II: LELENGANAN IBLIS DAN JEJAK KI WARTA
Keesokan harinya, Dani mengajak Amir mengendarai motor tua menuju kaki Gunung Hejo. Di sepanjang jalan, Dani bercerita tentang sejarah kelam di balik aspal tol yang mereka lintasi.
“Mir, kau lihat lengkungan tol di KM 97 itu? Itu sengaja dibuat melengkung tajam, bukan karena tanahnya susah dibangun, tapi karena takut,” ujar Dani di tengah deru mesin motor.
Amir menatap ke arah bukit yang menjulang.
“Dulu waktu pembangunan tol di sekitar KM 90 sampai 97, kejadian aneh mewarnai proyek ini. Banyak buruh yang tewas secara misterius. Ada yang jatuh dari kendaraan berat, ada yang tertidur di aspal basah lalu dilindas alat berat yang tiba-tiba menyala sendiri meski mesinnya mati. Konon, ada dua bocah gundul berlari di atas pancang cor, lalu terjatuh ke lubang yang dihuni ular raksasa,” cerita Dani dengan suara rendah.
“Konon itu adalah ulah para penunggu. Dulu, pihak pembangunan berjanji akan membangun mushola dan membuka akses jalan bagi masyarakat sekitar untuk naik ke Gunung Hejo. Tapi janji itu hanya angin. Hingga kini, tidak ada jalan yang menghubungkan tol dengan Gunung Hejo. Masyarakat yang mau ziarah harus berjalan kaki melewati pematang sawah yang licin atau nekat melompati pagar tol. Kemarahan para penunggu, seperti Syekh Magelung dan Prabu Siliwangi, lah yang membuat tol ini angker. Kecelakaan-kecelakaan itu, adalah tumbal berjalan yang harus mereka bayar.”
Mereka tiba di rumah Ki Warta. Seperti seorang yang menanti tamu agung, pintu rumah Ki Warta langsung terbuka lebar sebelum mereka sempat mengetuk.
“Kau akhirnya datang juga, putera dari pantai utara,” sapa Ki Warta dengan suara yang terdengar berlapis-lapis, datar namun menusuk.
Amir langsung mengutarakan niatnya. Ia ingin kaya, tidak peduli harganya. Ki Warta tersenyum tipis, senyum yang membuat udara di ruangan itu tiba-tiba membeku.
“Aku bisa mengantarmu ke pintu gerbangnya. Tapi kau harus siap membayar mahar uang, dan mahar nyawa,” ucap Ki Warta.
Amir menyerahkan uang mahar sebesar 1,5 juta rupiah. Sore itu, mereka bertiga mendaki bukit. Jalanan setapak yang terjal, akar-akar pohon tua yang menjuntai seperti jari-jari mayat, dan jembatan kayu yang sudah rapuh menjadi saksi bisu perjalanan menuju kemusyrihan.
BAB III: KONTRAK DI BAYANG-BAYANG KELAM
Malam turun dengan cepat di puncak Gunung Hejo. Amir ditinggal sendirian di bawah sebuah pohon besar yang rindang, tempat yang konon sering menjadi pusat pertapaan. Hanya ditemani sesaji yang tersusun rapi dan seekor ayam hitam hidup yang terlihat takut berdiri di keranjang.
Waktu berlalu dengan lambat, menyiksa. Tiba-tiba, ribuan nyamuk seolah turun dari langit gelap, membentuk awan hitam yang menutupi sekujur tubuh Amir. Amir merasa sesak, ia ingin lari, namun ingatan akan utang dan kemiskinan mengikat kakinya ke tanah. Ia hanya bisa menutup mata pasrah.
Setelah hening kembali, terdengar tawa bergema di tengah hutan. Tawa yang bukan dari tenggorokan manusia, tawa yang menggetarkan dedaunan dan membuat tanah di bawah kaki Amir bergetar layaknya gempa. Dari kegelapan pohon, turunlah sosok yang menakutkan. Tinggi besar, berkulit hijau bercampur lendir, dengan mata yang menyala kuning kemerahan.
Itulah Jin Barkola, atau yang dikenal sebagai Buto Ijo, penguasa Gunung Hejo.
“Apa yang kau inginkan, Manusia rendahan?” gertak Buto Ijo dengan suara yang menggema di telinga Amir, membuat gendang telinganya sakit.
Amir gemetar hebat, namun ia berhasil berkata, “Saya… saya ingin kaya, Tuan. Saya ingin usaha saya sukses. Ambil saja jiwa saya nanti.”
Jin itu mendekat, napasnya berbau anyir darah busuk. “Aku tidak butuh jiwa mati kau. Aku butuh jiwa muda yang masih segar.”
Mata Buto Ijo melirik ke arah kosong. “Kau punya anak tiri. Rina. Kau sering kesal dengan dia. Berikan dia padaku, dan kekayaan akan mengalir deras.”
Hati Amir berdegup kencang. Tapi kejahatan yang tertutup kedok kemanusiaan mulai meracuninya. “Baik, Tuan. Ambil dia.”
Di depan mata Amir yang terbelalak, Buto Ijo mengambil ayam hitam itu. Dengan mulut yang menganga lebar, ia melahap ayam hidup-hidup. Saat tulang-tulang ayam itu remuk, bukan suara ayam yang terdengar, melainkan jeritan memilukan Rina, putri tirinya, memanggil nama ibunya berkali-kali.
“Tolong… Bu… saya sakit… tolong…!”
Jeritan itu bergema di puncak bukit yang sunyi, membuat Amir menggigil di udara yang panas. Saat jeritan itu hilang, pagi menyingsing. Amir menemukan dirinya berdiri sendirian dengan sesaji yang sudah tidak berbentuk lagi. Ia turun gunung dengan wajah yang bersinar, namun di balik senyumnya, tersimpan bayang-bayang iblis.
BAB IV: HARGA KEMEGAHAN HIDUP
Kematian Rina terjadi hari itu juga. Ditemukan tak bernyawa di kamar, tanpa tanda kekerasan fisik, namun wajahnya pucat dan matanya melotot ketakutan. Wiwin menjerit histeris, menceritakan mimpi buruknya di mana suaminya menyeret Rina ke kereta kuda api yang terbang ke angkasa. Amir hanya menangis pura-pura, memeluk Wiwin sambil tersenyum di dalam hati. Perjanjian telah selesai.
Tujuh hari setelah kematian Rina, usaha Amir meledak. Warung makan kecilnya berubah menjadi restoran megah dengan pelanggan yang antri berjam-jam. Uang mengalir bagai air bah. Hutang lunas, rumah mewah berdiri di atas tanah yang dulunya hanya gubuk reyot. Mobil, permata, dan segala kemewahan duniawi kini ada di genggaman Amir. Ia hidup dalam harga kemegahan yang mahal.
Namun, ada satu syarat mutlak. Sebuah kamar di bagian belakang rumah harus selalu terkunci, khusus untuk Amir bersemadi.
Setiap malam Jumat Kliwon—saat banyak orang dari berbagai kota melakukan ritual di Gunung Hejo—Amir akan mengurung diri di sana. Di luar kamar itu, Wiwin sering mencium bau dupa yang berbau amis darah segar yang menusuk hidung hingga mual.
Suatu malam Jumat Kliwon, saat Wiwin sedang sendirian, pintu kamarnya diketuk. Amir masuk, tapi bukan Amir yang dikenalnya. Wajahnya pucat, dingin, dan matanya kosong tanpa ekspresi. Tanpa kata-kata, “Amir” menyerang Wiwin secara brutal. Tangan Amir terasa sekuat besi dan dingin seperti mayat kering. Wiwin berontak, namun ia tak bisa melawan. Saat proses itu berlangsung, Wiwin merasakan sesuatu yang menjijikkan. Ada bau anyir darah dan bau hutan lembap yang menyengat dari tubuh suaminya.
Kejadian itu berulang tiap Jumat Kliwon. Anehnya, Wiwin mulai merindukan “makan malam” tersebut. Ia merasakan kenikmatan fisik yang luar biasa yang tidak pernah diberikan Amir manusia biasa. Wiwin mulai sadar bahwa setiap Jumat malam, ada sesosok makhluk yang menumpang tubuh suaminya untuk memenuhi hasratnya sebagai bayarannya. Ia pun tak peduli ketika Amir diam-diam menikah lagi dengan wanita lain. Bagi Wiwin, selama uang dan kepuasan ada, dosa bukanlah masalah.
BAB V: DAUN-DAUN BUSUK DAN AKHIR YANG MENYEDIHKAN
Suatu hari, Dani berkunjung ke restoran megah Amir di Pantura. Ia melihat sahabatnya itu dikelilingi kemewahan, namun aura di wajah Amir gelap dan lembab. Sebelum pulang, Wiwin memberikan segepok uang tebal kepada Dani sebagai tanda terima kasih.
Dani menerima dengan senyum. Namun, saat ia berhenti di minimarket untuk beristirahat dan membuka amplop tersebut, tangan Dani bergetar hebat. Segepok uang ratusan ribu itu telah berubah menjadi segepok daun-daun tua, kering, dan membusuk berbau tanah. Uang pesugihan. Uang dari dunia yang tidak nyata.
Dani tahu, Amir sudah jauh terjebak. Ia mengasingkan diri dari Amir, namun doa dalam hatinya selalu berdoa agar Amir tobat.
Namun, tahun 2015 membawa kejutan yang pahit. Tol Cipali resmi dibuka. Jalur Pantura, urat nadi ekonomi Amir, sepi seketika. Pengendara beralih ke jalan tol yang lebih cepat. Pelanggan restoran Amir hilang satu per satu. Utang kembali menumpuk, menggerogoti kemegahan hidup Amir.
Amir panik. Ia mencoba menghubungi Ki Warta, namun rumah Ki Warta sudah kosong. Ia mencoba melakukan ritual di kamar belakang, namun tidak ada respon. Kamar itu hening, tak ada aroma dupa, tak ada aroma darah. Buto Ijo telah menghentikan kontraknya, dan tiba saatnya sang penguasa mengambil tagihan seluruhnya.
Menurut kabar terakhir yang didengar Dani, Amir dan Wiwin menghilang begitu saja. Mereka kabur meninggalkan istana megah dan hutang yang menumpuk, melarikan diri entah ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Ada desasusus mereka terlihat terbujur kaki di pinggir jalan, ada juga cerita mereka lari karena dikejar bayang-bayang Buto Ijo yang marah karena rezeki habis.
Hingga kini, lengkungan KM 97 di Tol Cipularang tetap berdiri mengitari Gunung Hejo. Kecelakaan masih terjadi, tumbal berjalan terus berjalan. Konon, setiap jiwa yang melayang di sana adalah tambahan dari daftar yang dibutuhkan para penunggu gunung.
Kisah Amir dan Wiwin adalah cerminan bagi kita. Hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Tabrani mengingatkan kita: “Pergilah kepada hambaku, lalu timpakanlah ujian kepada mereka, karena Aku merindukan suara rintihan mereka.” Kesusahan adalah cobaan agar kita kembali merendahkan kepala di hadapan Sang Pencipta, bukan berdiri tegak di hadapan Iblis, menukarkan nyawa demi harta yang fana dan berbau busuk.
Sekian kisah “Tumbal Berdarah Buto Ijo Cipularang” malam ini. Semoga kisah ini bisa menjadi pelitan berharga bagi kita semua, agar selalu waspada dalam melangkah dan tidak mudah tergoda dengan jalan pintas yang menjerumuskan. Tetaplah setia di Syaiflash Channel dan syaiflash dot com. Selamat malam, dan jagalah hatimu dari godaan yang mengintai.
TOKOH & PERWATAKAN
1. AMIR
- Peran: Protagonis Utama (Tokoh Utama). Seorang ayah tiri dan suami yang mencari pesugihan demi kekayaan instan.
- Perwatakan: Awalnya digambarkan sebagai sosok yang lemah, putus asa, dan penuh kekhawatiran karena terbelit utang. Namun di balik ketidakberdayaannya, ia menyimpan sisi licin dan manipulatif. Ia mampu menutupi kekejian hatinya dengan senyuman palsu di depan istrinya. Setelah mendapat pesugihan, sifatnya berubah drastis menjadi sombong, rakus, dan kejam—ia tak ragu menjadikan istri sebagai pemuja nafsu setan demi mempertahankan harta.
- Latar Belakang & Motivasi: Berasal dari Subang, ia menikahi Wiwin, seorang janda beranak satu yang memiliki warung makan Pantura. Kehidupannya hancur ketika usaha bangkrut dan rumah terancam disita bank. Motivasi utamanya adalah rasa malu akut yang berubah menjadi nafsu serakah untuk hidup mewah tanpa kerja keras, serta kebenciannya terhadap anak tirinya, Rina, yang dianggap beban ekonomi.
- Perkembangan Karakter: Amir mengalami transformasi tragis dari korban keadaan menjadi monster dalam wujud manusia. Ia mulai sebagai seorang suami yang berusaha bertahan hidup, lalu menyeberang ke garis hitam dengan mengorbankan nyawa anak tirinya. Puncak kesaranya tercapai saat ia menikmati kekayaan dan membiarkan istrinya diseret dalam nafsu sesat. Namun, kemundurannya terjadi dengan cepat dan hina ketika rezeki pesugihan habis, mengubahnya menjadi sosok pengecut yang melarikan diri dari hutang dan bayang-bayang Buto Ijo.
2. JIN BARKOLA (BUTO HIJAU)
- Peran: Antagonis Utama (Entitas Gaib). Penguasa mistis Gunung Hejo dan pemberi pesugahan.
- Perwatakan: Sadis, dingin, dan memiliki aura penghancur yang mengerikan. Ia adalah sosok predator spiritual yang memandang manusia tidak lebih dari binatang ternak yang bisa dipotong dan dimakan untuk tumbal. Ia pandai menggoda lubang kelemahan manusia—ketakutan dan keserakahan—dengan suara yang menggelegar menakutkan.
- Latar Belakang & Motivasi: Salah satu penguasa utama di Gunung Hejo, tempat yang dipercaya sebagai petilasan Prabu Siliwangi dan wilayah kekuasaan karuhun Sunda. Ia berdiam di balik lengkungan KM 97 Tol Cipularang. Motivasinya adalah menguasai dan menghisap kehidupan manusia yang nekad mencari jalan pintas, mengambil jiwa-jiwa murni sebagai ganti kekayaan duniawi yang fana.
- Perkembangan Karakter: Sebagai makhluk halus abadi, karakternya statis dan tidak mengalami perubahan batin. Ia terus menjadi sosok penagih utama. Namun, kehadirannya dalam cerita berkembang dari sekadar bayangan misterius menjadi teror nyata yang “merasuk” ke dalam rumah tangga Amir. Ia memperlihatkan watak sejatinya yang pendendam saat tiba waktunya menarik kembali semua harta dan menagih nyawa pelanggannya tanpa ampun.
3. WIWIN
- Peran: Deuteragonis. Istri Amir sekaligus ibu kandung Rina yang menjadi korban sekaligus pemuja nafsu setan.
- Perwatakan: Awalnya adalah wanita sederhana, lembut, dan penyayang. Namun di balik kelembutannya ia memiliki jiwa yang rapuh dan mudah hanyut dalam kesedihan. Setelah kehilangan anak, ia mengalami kerusakan emosional: ia melupakan kematian putrinya dengan cepat demi harta, dan berubah menjadi sosok yang materialistis serta permisif. Tragisnya, ia menjadi “kekasih” spiritual dari Buto Ijo yang menumpang tubuh suaminya karena kecanduan kenikmatan duniawi yang melampaui batas.
- Latar Belakang & Motivasi: Seorang janda miskin dari Pantura yang menikahi Amir demi mencari sandaran hidup. Ia memiliki satu anak dari suami pertama bernama Rina. Motivasi awalnya hanya ingin keluarga harmonis dan berkecukupan. Namun setelah Rina mati jadi tumbal dan Amir kaya mendadak, motivasinya bergeser menjadi obsesi untuk mempertahankan kemewahan dengan segala cara, bahkan melayani nafsu iblis yang merasuki suaminya.
- Perkembangan Karakter: Wiwin adalah contoh kejatuhan moral yang menyedihkan. Ia berkembang dari ibu penuh kasih sayang menjadi saksi kematian anaknya sendiri, lalu tenggelam dalam kemewahan palsu. Ia mematikan nurani ketika mengetahui suaminya menikah lagi atau saat sadar dirinya ditiduri oleh jin, asalkan uang dan kepuasan fisik terus mengalir. Ia berakhir sebagai wanita kosong yang kehilangan jati diri dan keluarga.
4. DANI
- Peran: Tritagonis sekaligus Narator Sumber. Sahabat Amir yang berperan sebagai jembatan menuju Ki Warta.
- Perwatakan: Bijaksana, berhati-hati, dan memiliki latar belakang dunia gelap yang ia sesali. Ia memiliki empati yang kuat namun tegas pada prinsip. Ia adalah suara hati yang sering diabaikan. Ia menceritakan kisah ini dengan nada sesal dan waspada, mengingatkan pendengar tentang bahaya pesugihan.
- Latar Belakang & Motivasi: Pria asal Purwakarta yang dahulu gemar berguru ilmu hitam namun kini hidup pas-pasan dan berusaha taat. Motivasi awalnya membantu Amir murni karena persahabatan dan rasa iba, namun ia mencoba menahan Amir dari jalan pesugihan. Ia ingin menebus dosa masa lalu dengan memberi nasehat baik, meski akhirnya ia gagal mencegah Amir.
- Perkembangan Karakter: Dani berperan sebagai pengamat yang cerdas. Ia berkembang dari teman yang terpaksa ikut campur menjadi saksi kehancuran sahabatnya. Kejadian saat uang pemberian Wiwin berubah menjadi daun-daun busuk adalah puncak perkembangannya, di mana ia sadar bahwa ia harus menjauh sepenuhnya dari Amir yang sudah terlalu jauh tersesat di jalan setan.
5. RINA
- Peran: Korban Utama (Tumbal). Anak tiri Amir dan putri kandung Wiwin.
- Perwatakan: Gadis belia yang lugu, polos, dan berbakti pada orang tua. Ia digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut dan tidak memiliki daya tahan batin melawan serangan gaib. Sebagai anak tiri, ia kerap merasa tidak disukai Amir namun tetap berusaha menurut.
- Latar Belakang & Motivasi: Pelajar SMP kelas dua yang tinggal bersama ibu dan ayah tirinya di Subang. Ia adalah hasil pernikahan pertama Wiwin. Motivasi hidupnya sederhana: sekolah dengan baik, membantu orang tua, dan mencintai keluarganya meski ia sering merasa menjadi beban bagi ayah tirinya.
- Perkembangan Karakter: Rina tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Ia adalah korban tak berdosa yang nasibnya langsung diputus oleh kontrak jahat Amir. Kehadirannya dalam cerita hanya menjadi mimpi buruk dan sosok mayat yang menyadarkan Wiwin akan kejadian sebenarnya. Ia berakhir sebagai nyawa yang diambil paksa sebagai pembayaran pesugihan Amir.
Deskripsi:
- Genre Cerita: Horor, Misteri, Legenda Urban, Thriller Psikologis
- Dirilis Tanggal: 14 Januari 2026
- Nama Tokoh: Amir, Wiwin, Dani, Jin Barkola (Buto Ijo), Rina
- Inti Cerita: Amir yang terlilit utang nekat melakukan perjanjian darah dengan Buto Ijo di Gunung Hejo dengan menyerahkan nyawa anak tirinya sebagai tumbal, namun pesugihan itu berujung pada kehancuran hidup keluarganya.
Cerita Singkat:
Amir, seorang suami yang putus asa akibat usaha bangkrut dan terancam penyitaan rumah, nekat meminta tolong sahabatnya, Dani, untuk mencari jalan pesugihan di Gunung Hejo, kawasan angker sepanjang Tol Cipularang. Dibimbing oleh Ki Warta, Amir melakukan ritual di bawah pohon keramat dan bertemu Jin Barkola, sosok Buto Ijo penghuni bukit. Demi kekayaan instan, Amir menyetujui syarat tumbal nyawa anak tirinya, Rina. Segera setelah itu, Rina tewas secara gaib dengan kondisi mengenaskan. Usaha Amir pun melambung, kekayaan mengalir deras hingga ia membeli rumah mewah dan restoran besar. Namun, teror menyusul dalam wujud ritual nafsu bejat setiap malam Jumat Kliwon di mana Wiwin, istrinya, menjadi “pasangan” Buto Ijo. Wiwin yang awalnya ketakutan, justru terjebak dalam kenikmatan dosa. Pesugihan itu ternyata hanya sementara. Ketika Tol Cipali resmi dibuka pada 2015 mengalihkan lalu lintas Pantura, rezeki Amir tiba-tiba berhenti. Hutang kembali menumpuk, Buto Ijo menagih, dan Amir-Wiwin pun kabur dalam kehancuran abadi, meninggalkan kisah mencekam di balik lengkungan KM 97.
Leave a Reply