PESUGIHAN ASMARA GUNUNG KEMUKUS

Selamat malam, para pendengar setia “Kisah Misteri”. Ada kekayaan yang didapat dengan kerja keras, diukir dengan keringat dan dibayar dengan waktu. Tapi ada juga kekayaan yang dicari di tengah malam, diikat dengan darah, dan dibayar dengan asmara. Dan di sebuah gunung yang namanya diucapkan dengan bisikan di Jawa Tengah, transaksi itu punya aroma yang khas: bunga melati.

Bukan sekadar urusan mendapat rezeki yang halal. Ini adalah pesugihan. Sebuah perjanjian hitam yang meminta harga yang paling berharga: jiwa dan cinta. Mereka yang berpikir bisa mendapat semua tanpa mengorbankan apa-apa, mereka lupa bahwa setiap kemudahan pasti ada pajaknya. Dan kadang, pajak itu datang dalam wujud seorang sopir travel yang hanya ingin mencari nafkah di tengah malam.

Kisah ini adalah buktinya. Ketika sebuah pesugihan mencari pasangannya, maka malam itu, di tengah deras hujan, sebuah takdir baru dimulai. Ini adalah kisah tentang “Pesugihan Asmara Gunung Kemukus”.


BAB I PENUMPANG MALAM

Dengar, pendengar setia, di sebuah malam yang dingin dan basah, takdir bisa berubah arah hanya karena sebuah pesan di layar ponsel. Begitulah kisah Raka Setyo, seorang sopir travel dari Magetan yang dikenal tenang dan jarang menolak order. Seaneh apapun permintaan penumpangnya, biasanya Raka hanya mengantar orang ke arah Solo, Jogja, atau kadang Semarang. Tapi malam itu, dia mendapat permintaan yang tidak biasa. Cuma satu penumpang, minta diantar ke Gunung Kemukus di jam dini hari. Raka sempat berpikir, siapa sih yang mau ke sana tengah malam begini? Tapi karena mobilnya kosong dan uang di dompet mulai menipis, akhirnya dia ambil juga order itu. Penumpang itu perempuan, namanya Nadya. Suaranya waktu ditelepon pelan, datar, tapi entah kenapa ada sesuatu yang bikin Raka tidak bisa menolak. “Mas, saya minta diantar ke Kemukus, tapi jangan tanya kenapa,” katanya pelan.

Jam 15 malam, Raka sampai di terminal lama Magetan. Tempat itu sepi banget. Hujan gerimis dan cuma satu orang berdiri di bawah lampu jalan yang kedap-kedip. Perempuan itu pakai jaket hitam. Rambutnya terurai, wajahnya pucat kena sinar lampu kuning yang redup. Dia tidak bawa tas, cuma kantong plastik kecil yang diselipin di tangan. Begitu Raka buka kaca mobil dan nyebut namanya, perempuan itu langsung mengangguk tanpa bicara. Dia masuk mobil, duduk di kursi belakang. Tidak lama kemudian, mereka berangkat.

Sepanjang perjalanan cuma ada suara wiper dan hujan yang jatuh di kaca. Raka sempat coba ngajak ngobrol, tapi Nadya jawabnya selalu pendek-pendek kayak orang lagi mikir berat. Kadang Raka ngelirik dari kaca spion, tapi matanya susah ketemu. Nadya terus menunduk, tangannya mainin kantong plastik yang dia bawa dari tadi. Setelah hampir 1 jam jalan, Nadya tiba-tiba bicara pelan. “Mas Raka, nanti sampai sana jangan langsung turun ya, tunggu di mobil aja. Kalau saya belum balik, jangan nyusul.” Nada suaranya bikin Raka merinding. Bukan karena dia keras atau aneh, justru karena tenang banget tapi berat. Kayak orang yang sudah tahu sesuatu bakal terjadi. Raka enggak jawab, cuma ngangguk kecil, tapi jantungnya mulai enggak enak.

Mobil terus jalan nembus kabut, melewati jalanan sempit di kaki gunung. Sinyal mulai hilang. Udara dingin masuk lewat celah jendela. Dan pas Raka nengok lagi lewat kaca spion, Nad masih duduk di belakang. Tapi entah kenapa wajahnya enggak kelihatan jelas lagi.


BAB II BAYANGAN DI GUNUNG KEMUKUS

Sekitar jam 01:00 dini hari, mobil Raka akhirnya sampai di parkiran bawah Gunung Kemukus. Tempat itu gelap. Cuma ada dua warung yang masih buka dan satu lampu merkuri berkelip di pojok pos jaga. Udara dingin banget. Raka matiin mesin, tapi radio masih nyala pelan. Suara statik nyampur dengan gemericik hujan. Nadya buka pintu belakang tanpa ngomong sepatah kata pun. Dia berdiri di luar menatap ke arah atas gunung yang diselimuti kabut tebal. Lalu pelan-pelan dia bilang, “Mas, tunggu di sini aja. Jangan ke atas.” Sekalipun Raka cuma ngangguk.

Dia perhatiin langkah Nad menjauh, naik tangga batu yang basah. Cuma pakai sendal jepit, tapi jalannya mantap kayak udah hafal tempat itu. Beberapa menit berlalu, Raka coba rebahan di kursi sambil ngerokok. Tapi baru dua kali hisap, tiba-tiba dari atas kedengaran suara gamelan pelan banget. Bukan kayak dari speaker, tapi kayak dari jauh, tertiup angin. Nada-nadanya aneh, bukan lagu Jawa biasa. Raka matiin rokoknya. Dia buka kaca sedikit. Dengerin baik-baik. Suara itu datang makin jelas diikuti suara perempuan tertawa kecil. Bukan tawa yang bahagia, tapi kayak serek, berat, dan menakutkan.

Raka spontan keluar dari mobil, berdiri di bawah lampu. Hujan makin deras. Tapi anehnya, di puncak tangga yang tadi dilewati Nadya, Raka ngelihat silowet dua orang. Padahal tadi Nadya berangkat sendirian. Dia sempat mau nyusul, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Layar nyala sendiri. Ada pesan masuk dari nomor yang sama waktu dia dapat order. “Mas, jangan naik. Mereka udah lihat mobilnya.” Jantung Raka langsung deg-degan. Dia lihat sekeliling. Parkiran sepi. Tapi entah dari mana, di ujung warung remeng ada bayangan orang berdiri. Cuma berdiri aja, enggak bergerak. Dan ketika Raka fokus ngelihat, sosok itu perlahan hilang ditelan kabut.

Dalam hati Raka mulai mikir, “Ini tempat apa sih sebenarnya?” Dia buru-buru masuk ke mobil, kunci pintu, dan nyalain mesin. Tapi radio yang tadi pelan tiba-tiba nyala keras sendiri muterin suara orang ngelantun doa dengan nada aneh. Kayak doa tapi bukan bahasa Arab.

Raka masih di dalam mobil. Jantungnya belum juga tenang. Suara gamelan dari atas gunung makin jelas. Tapi anehnya enggak ada orang lain di sekitar. Lampu-lampu warung di kiri kanan parkiran padam satu persatu. Tinggal satu warung kecil yang masih nyala samar dari arah pojok. Karena penasaran dan butuh kopi buat nenangin diri, Raka turun dari mobil. Hujan masih turun tapi tipis. Di dalam warung itu ada seorang lelaki tua. Rambutnya putih semua pakai sarung dan jaket lusuh. Dia duduk sambil nyeruput kopi dari gelas kaleng.

“Ngopi, Mas.” Suaranya serak tapi ramah.

Raka mengangguk. “Boleh, Pak, kopi hitam aja.”

Lelaki tua itu nyeduh kopi sambil sesekali melirik ke arah luar warung ke jalan naik ke atas gunung. “Mas, nunggu orang ya?”

“Iya, Pak. Ada teman saya naik duluan.” Jawab Raka pelan.

“Perempuan.”

Raka kaget. “Kok Bapak tahu?”

Lelaki tua itu cuma nyenyum tipis. “Dari dulu yang naik jam segini gak pernah laki-laki, Mas. Selalu perempuan.” Raka diam. Uap kopi naik dari gelas tapi hawa di sekitar malah makin dingin. Lelaki tua itu lanjut bicara. Suaranya pelan tapi tegas. “Mas tahu enggak? Gunung itu bukan tempat orang minta kaya, Mas. Itu cuma sampulnya. Aslinya, itu tempat menyelesaikan pesugihan. Orang-orang datang kesana ngantri buat minta ini-itu, tapi mereka lupa, yang ngasih itu bukan Tuhan. Mereka itu cuma penagih utang. Utang yang kadang nggak dibuat sama orangnya sendiri, tapi sama kakek buyutnya.”

Raka mulai enggak enak. Dia pengin buru-buru balik ke mobil. Tapi sebelum berdiri, lelaki tua itu tiba-tiba bilang, “Kalau nanti ada yang ketuk kaca mobil tiga kali, jangan noleh, jangan buka.”

Raka langsung merinding. Belum sempat dia nanya maksudnya, Bapak itu udah berdiri matiin kompor dan bilang, “Warung tutup, Mas. Semoga temannya cepat turun.” Warung itu benar-benar gelap dalam hitungan detik. Raka keluar, lari kecil ke mobil, masuk dan kunci pintu. Dia duduk diam, tangan masih pegang gelas kopi yang belum sempat diminum. Radio udah mati. Tapi dari luar, di antara hujan dan kabut, pelan-pelan terdengar… tuk… tuk… tuk… tiga kali tepat di kaca jendela belakang. Raka enggak berani nengok. Tangannya gemeter, matanya mulai berair karena rasa takut yang dia sendiri enggak ngerti. Dan di tengah ketegangan itu, ponselnya bergetar lagi. Pesan baru masuk dari Nadya. “Mas, jangan takut. Yang ketuk itu bukan saya.”


BAB III TARIAN BUNGA MELATI

Hujan makin redah. Raka masih di dalam mobil. Jantungnya belum juga tenang setelah suara ketukan di kaca tadi. Tapi belum sempat dia berpikir lebih jauh, dari arah tangga batu muncul sosok Nadya. Bajunya basah, rambutnya lepek, dan wajahnya pucet kayak habis lihat sesuatu yang gak seharusnya. Dia langsung lari kecil ke arah mobil, buka pintu tanpa izin, dan duduk di kursi depan. Suara napasnya ngos-ngosan.

“Mas, Mas Raka, tolong aku… enggak kuat sendirian.”

Raka kaget. “Ada apa, Mbak? Kenapa mukanya gitu?”

Nadya enggak langsung jawab. Tangannya gemetar, matanya merah. “Mas, mereka enggak mau aku sendiri. Katanya harus berpasangan.”

Raka mengerutkan dahi. “Maksudnya siapa? Siapa yang gak mau?”

Nadya menatap lurus ke depan ke arah tangga gunung yang tertutup kabut. “Mereka yang jaga tempat ini.”

Hening. Cuma suara rintik hujan di atap mobil. Raka menarik napas panjang. “Mbak Nad, saya udah bilang jangan main ritual kayak gini. Itu bukan jalan keluar. Mending pulang ya. Saya antar.”

Nadya langsung menggeleng keras. Matanya mulai basah. “Mas enggak ngerti. Aku udah gak punya apa-apa lagi. Orang tuaku dulu yang bikin perjanjian ini biar usaha kita maju. Tapi perjanjiannya harus ada gantinya. Katanya kalau ritualnya berhasil, semua yang dijanjikan akan kembali. Keluargaku bisa selamat dari bangkrut. Aku… aku cuma mau mereka hidup normal lagi, Mas.”

Raka masih diam. Dia tahu Nad bukan orang jahat, cuma orang yang lagi kepepet, terjebak antara harapan dan ketakutan. Tapi begitu Nadya mulai nangis pelan, suaranya pecah, Raka jadi enggak tega. “Mas, tolong temenin aku sekali ini aja. Aku janji enggak lama. Aku cuma butuh pasangan buat selesaiin ritualnya.”

Raka mengusap wajah, bingung antara kasihan dan takut. Hatinya bilang jangan. Tapi rasa manusiawinya, rasa iba, mulai nguasain pikirannya. Akhirnya dia mengangguk pelan. “Oke, tapi habis ini Mbak janji kita langsung pulang.”

Nadya cuma menetap raka dengan mata merah yang kosong lalu senyum tipis. Senyum yang entah kenapa bikin dada raka makin berat.

Mereka pun turun dari mobil. Tangga menuju puncak gunung kelihatan samar di balik kabut. Suara gamelan tadi muncul lagi pelan seperti memanggil. Langkah mereka berat tapi terus naik. Di kanan kiri tangga banyak pohon besar. Daunnya meneteskan air hujan. Semakin tinggi udara makin dingin dan kabut makin tebal. Raka sempat ngerasa aneh. Dari jauh dia ngelihat bayangan orang jalan di depan mereka tapi langkah kakinya gak bersuara sama sekali. Bahkan saat salah satu bayangan berhenti dan noleh, wajahnya enggak punya mata. Nad tetap jalan tanpa nengok kayak enggak sadar kalau mereka enggak sendirian.

Sampai akhirnya mereka sampai di pelataran batu besar, tempat yang katanya jadi titik ritual. Ada sisa dupa yang masih menyala dan bunga tujuh rupa berserakan di tanah. Di tengahnya ada kendi tanah liat yang retak dan sesajan yang masih hangat. Tapi anehnya enggak ada orang. Raka mulai merasa dadanya sesak. “Nad, udah kita turun aja. Gak enak tempat ini.”

Tapi Nadya malah jalan ke tengah pelataran, jongkok di depan kendi itu, lalu bicara pelan seolah pada yang tak terlihat. “Kalau yang kalian minta enggak aku bawa, aku ganti dengan diriku sendiri. Tapi aturannya harus berpasangan!” Dia menatap raka dan di matanya ada sesuatu yang berubah. Bukan sedih lagi, tapi seperti seorang yang akan mengorbankan apa saja.

Kabut makin tebal. Suara gamelan yang tadinya samar sekarang seperti bergema di kepala raka sendiri. Pelan, monoton, tapi bikin jantung berdebar. Nadya duduk bersila di depan kendi tanah liat yang retak. Mulutnya komat kamit, entah doa atau mantra, tapi nadanya berubah-ubah. Kadang seperti bisikan, kadang seperti isak. Raka berdiri agak jauh. Dia mau mendekat, tapi tiba-tiba pandangannya berkunang. Kepalanya berat, hidungnya mencium bau dupa yang makin menyengat, padahal angin enggak bergerak. Dan dalam sesaat dia ngerasa kayak ada suara lain di antara desir kabut. Suara laki-laki para tapi dekat banget di telinga kirinya. “Dulu dia janji tapi enggak ditepati.”

Raka langsung menoleh tapi gak ada siapa-siapa. Cuman Nad yang masih duduk di tengah pelataran, menunduk, bahunya gemetar. Dia maju pelan. “Nad, udah kita pulang ya. Tempat ini gak baik buat kamu.”

Nadya gak jawab. Kedua tangannya mencengkeram tanah basah di depannya. Dan dari sela jari-jarinya, Raka lihat ada darah. Bukan banyak, tapi cukup buat bikin perutnya mual. “Nad, kamu kenapa?” Raka berlari mendekat menarik tangannya. Dan saat itu Raka baru sadar, kuku Nad patah, ujung jarinya luka, tapi dia gak bereaksi sama sekali. Matanya menatap kosong ke depan, seolah ngelihat sesuatu yang enggak bisa Raka lihat.

“Nad, dengerin saya. Kamu sadar gila?”

Perempuan itu pelan-pelan menoleh dan suaranya berat seperti bukan dirinya sendiri. “Kata mereka, kalau aku enggak bawa pasangan, aku harus bayar sendiri.”

Raka langsung mundur satu langkah. “Siapa mereka?”

Nadya senyum samar, tapi senyum itu enggak sampai ke matanya. “Yang dulu aku panggil waktu pertama ke sini.” Dia berhenti lalu mulai nangis pelan. “Mas Raka. Aku cuma mau hidup tenang. Aku cuma mau berhenti, ngerasa dikejar-kejar terus.”

Raka diam. Kata-katanya mulai terdengar bukan kayak pengakuan mistik, tapi lebih kayak beban yang udah lama dia pendam. Pelan-pelan Raka duduk di sebelahnya. Dia gak tahu harus ngomong apa. Jadi dia cuma bilang, “Udah, Mbak, udah cukup. Kamu enggak harus buktiin apa-apa ke siapa-siapa. Yuk, kita turun.”

Nadya masih menunduk. Air matanya jatuh ke tanah yang basah. Suara gamelan pelan-pelan meredah, dan Raka mulai ngerasa tenang. Seolah kabut juga ikut surut. Tapi saat mereka berdiri dan mulai melangkah turun, Raka sempat nengok sekali ke belakang. Di tempat Nad tadi duduk, kendi tanah liat itu udah agak retak lagi, utuh. Dan di atasnya ada satu bunga melatih segar. Padahal tadi hujan deras. Raka cuma menatap sebentar lalu memalingkan muka. Dalam hatinya dia tahu mungkin ada hal-hal yang enggak perlu dicari jawabannya malam itu. Yang penting mereka berdua bisa keluar dari tempat itu dengan selamat.


BAB IV PERJANJIAN YANG BELUM USAI

Kabut belum sepenuhnya hilang ketika Raka dan Nadya mulai menuruni tangga batu. Langkah mereka pelan. Suara hujan tinggal sisa rintik halus. Raka sempat merasa lega, seolah mereka benar-benar akan meninggalkan tempat itu. Tapi dari balik kabut tiba-tiba muncul sosok lelaki tua. Wajahnya samar di terpa cahaya senter kecil yang dia bawa. Raka berhenti spontan. Lelaki itu mengenakan jaket tebal, kain sarung di pinggang, dan di lehernya tergantung kalung berisi botol kecil dari anyaman bambu.

“Dari mana kalian?” Suaranya berat dalam.

Raka buru-buru menjawab, “Kami cuma mau turun, Pak. Udah selesai.”

Lelaki itu menatap mereka lama. Lalu matanya beralih ke Nadia. Perempuan itu menunduk, tapi bahunya beremar. “Belum selesai, Nak,” kata lelaki itu pelan. “Kamu belum pamit. Kalau pergi tanpa pamit bisa ditarik balik.”

Nadya langsung meneteskan air mata. Raka menatapnya bingung. Tapi lelaki itu melangkah mendekat menancapkan tongkat kayu ke tanah. “Ritualnya belum ditutup. Kalau mau pulang harus diselesaikan dulu.”

Raka menarik napas panjang. Dalam hatinya dia tahu semua ini mulai kelewat batas, tapi situasinya gelap, jauh dari mana-mana, dan wajah Nadya makin pucat. Kalau dia maksa turun, bisa-bisa malah tambah runyam. Akhirnya dia bicara dengan nada tenang meski dadanya terasa berat. “Baik, Pak, kami ikutin dulu. Tapi tolong sebentar aja.”

Lelaki tua itu mengangguk pelan lalu mengisyaratkan mereka untuk ikut. Mereka dibawa kembali ke pelataran batu. Tempat dupa tadi masih mengepul. Raka dan Nadya disuruh duduk bersila. Sementara lelaki itu menaruh tiga bunga melati di tengah lingkaran batu dan mulai membaca sesuatu. Bukan doa yang Raka kenal, tapi nadanya tenang seperti kidung lama.

Raka menatap ke arah kabut. Setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu terasa menekan dadanya seperti ada yang ikut bergetar di dalam kepala. Nadya menutup mata, air matanya terus mengalir, tapi kali ini tanpa suara. sampai akhirnya lelaki itu berhenti. Dia menatap raka lama-lama seolah membaca pikirannya. “Kalau sudah niat menolong, jangan setengah, Nak. Tapi kalau belum siap, jangan sekali-kali balik ke sini sendirian.”

Raka cuma mengangguk pelan. Dalam hatinya dia udah tahu malam ini bukan waktunya melawan. Yang penting sekarang adalah keluar dulu dari tempat itu. Hidup.

Ketika mereka akhirnya turun lagi, kabut mulai menipis. Udara pagi perlahan muncul dan suara ayam dari kejauhan terdengar samar. Nadya jalan di depan. Langkahnya gontai tapi lebih tenang. Sementara Raka dalam diam mulai berpikir keras. Dia tahu begitu sampai rumah dia harus cari cara. Cari orang atau siapapun yang bisa jelaskan apa sebenarnya yang terjadi malam ini. Dan satu hal yang pasti terlintas di pikirannya, ritual itu belum benar-benar selesai.

Di tengah dataran itu terhampar sebongkah batu besar. Datar hangat meski malam. Seolah alam sengaja menyediakannya untuk mereka berdua. Mereka duduk berhadapan. Jarak cukup dekat untuk merasakan nafas satu sama lain, tapi cukup jauh untuk saling menghormati. Belum ada nama yang disebut panjang, belum ada cerita hidup yang dibongkar. Api matinya, matanya sudah bicara. Udara membawa aroma khas pegunungan. tanah lembab, kayu basah, dan yang paling menenangkan wangi melati yang masih melekat di rambut Nadya. Sisa dari bunga kecil yang ia petik di kaki gunung tadi. Aromanya tak menyengat, tapi menyebar pelan seperti undangan diam-diam.

Raka menatap Nadya. Tak ada nafsu kasar di matanya. Hanya keheranan lembut seolah bertanya, “Siapa kamu?” sampai aku merasa seperti pulang. Nadya membalas tatapannya dan dalam diam itu ia merasakan hal yang sama. Tanpa kata, Raka mengulurkan tangan. Nad ragu sejenak, hanya seperdetik lalu menyambutnya. Jemarinya yang dingin perlahan hangat dalam genggaman neraka. Itu cukup. Tak perlu penjelasan. Malam ini bukan tentang logika, tapi tentang kepercayaan yang tumbuh dalam hitungan jam.

Lalu perlahan Raka mendekat. Bibir mereka bertemu. Bukan ledakan, tapi pelan seperti embun yang jatuh di daun. Ciuman pertama mereka penuh penyesuaian seperti dua jiwa asing yang tiba-tiba menemukan bahasa yang sama. Nadya menutup mata. Tangannya naik menyentuh wajah Raka, dagu yang sedikit berjenggot, pipi yang hangat, dan telipis yang berdenyut pelan. Setiap sentuhan adalah pertanyaan dan jawaban. Raka memeluknya. Pelukannya tak terlalu erat, tapi cukup untuk membuat Nadya merasa aman seperti menemukan tempat berlindung yang tak pernah ia tahu sedang ia cari.

Mereka bergeser pelan di atus batu itu. Tubuh mereka saling menyesuaikan. Bukan karena nafsu buta, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Rasa mengenali. Angin berhembus lebih pelan seolah alam ikut menahan nafas. Tangan neraka menyusuri punggung Nadya pelan. Seperti seseorang yang pertama kali menyentuh hal yang suci. Ujung jarinya menyapu leher belakangnya. Tempat rambut Nadya terangkat oleh angin malam meninggalkan kulit yang hangat dan sedikit berdebar. Di sana denyut nadinya berdetak pelan seperti irama kecil yang hanya bisa dirasakan oleh siapapun yang cukup dekat untuk mendengar.

Jemarinya turun pelan mengikuti garis tulang belikat yang menonjol lembut di balik kain tipis kausnya. Setiap sentuhan bukan sekadar gerakan, tapi pertanyaan. Bolehkah aku mengenalmu lebih dalam? Dan tubuh Nadya menjawab tanpa suara. Otot-ototnya yang awalnya tegang perlahan melembut seolah memberi izin. Tangannya terus menyusuri lekuk punggung Nadia dari bahu yang sempat membawa beban dunia hingga ke lengkung pinggang yang ramping namun kuat. Seperti batang pohon muda yang tumbuh di lereng gunung. Lentur tapi tak mudah patah.

Saat telapak tangannya menyentuh bagian bawah punggung Nadya dekat pinggang, ia merasakan hangat yang berbeda. Lebih dalam, lebih intim. Bukan panas nafsu, tapi kehangatan kepercayaan. Nadia sedikit Bukan karena rangsangan, tapi karena lega. Akhirnya ada seseorang yang menyentuhnya bukan untuk mengambil, tapi untuk memahami.

Jemarinya berhenti sejenak di sana. Lalu perlahan kembali naik. Mengulang jejak yang sama. Kali ini lebih pelan. Seolah menghafal setiap inci seperti menghafal bait puisi yang baru pertama kali didengar. Indah, asing, tapi terasa seperti kenangan lama yang baru ditemukan kembali. Nadya mengkarik nafas dalam lalu melepaskannya pelan. Tubuhnya menyerah pada sentuhan itu bukan karena lemah, tapi karena akhirnya merasa dilihat. Bukan hanya dilihat matanya, tapi dirasakan jiwanya.

Di tengah keintiman itu, Nad berbisik. Suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin. “Kita baru kenal, tapi rasanya seperti sudah lama menunggumu.”

Reka menarik sedikit menatap matanya. “Mungkin jiwa kita pernah bertemu di waktu yang lain, di tempat yang tak kita ingat.”

Mereka tak perlu kata-kata lagi setelah itu. Yang ada hanya sentuhan, nafas, dan keheningan yang penuh makna. Saat segalanya mencapai puncaknya, bukan suara yang terdengar, tapi getaran. Getaran tubuh yang melepas beban, getaran jiwa yang akhirnya lega. Nadya memeluk Raka erat. Wajahnya tersembunyi di bahunya. Raka membelai rambutnya terus-menerus seperti menenangkan badai yang akhirnya reda.

Lama mereka diam berpelukan di atas batu itu, membiarkan tubuh dan jiwa kembali tenang. Nadya mengangkat wajahnya. Matanya lelah tapi damai. Bibirnya tersenyum. katanya pelan. “Terima kasih karena kamu mau benar-benar ada meski baru mengenalku malam ini.”

Raka mencium keningnya lalu pelan berkata, “Mungkin malam ini bukan awal, tapi pertemuan ulang yang akhirnya terjadi.”

Mereka duduk bersampingan memandang cakrawala yang perlahan terang. Di puncak gunung yang sunyi, di atas batu yang menjadi saksi bisu, dua orang asing bukan hanya bercinta, tapi saling mengenali jiwa dalam cara yang hanya malam dan gunung yang paham.


BAB V PULANG KE RUMAH LAMA

Kabut mulai terangkat perlahan, digantikan udara dingin yang menggigit kulit. Langit di timur mulai menampakkan warna abu-abu muda. Tanda pagi hampir datang. Raka berdiri diam di pelataran batu itu, menatap Nadya yang masih duduk tenang dengan mata terpejam. Untuk sesaat dia tak yakin apakah perempuan itu tidur, pingsan, atau memang memilih diam di antara dua dunia. Setelah beberapa kali memanggil pelan dan tak ada jawaban, Raka akhirnya berjongkok menyentuh pundaknya. “Nad, ayo kita pulang.”

Perempuan itu membuka mata perlahan. Tatapannya kosong tapi lembut. Tanpa banyak bicara, ia berdiri, menepuk tanah di bajunya, lalu berjalan turun. Langkahnya ringan, terlalu ringan. Seolah tubuhnya tidak lagi menanggung apun. Raka mengikuti di belakangnya. Tangga batu terasa lebih panjang dari sebelumnya. Tak ada suara gamelan, tak ada suara burung. Hanya langkah sepatu yang menapak di sisa hujan. Beberapa kali Raka menatap ke arah punggung Nadya dan merasa seolah dia tak benar-benar berjalan, melainkan melayang di antara kabut yang tersisa.

Sesampainya di parkiran bawah, warung yang tadi buka kini kosong. Bangkunya terbalik. Bekas bara api masih berasap samar. Mobil travel raka tampak basah kuyub oleh embun dan hujan semalam. Raka membuka pintu menyalakan mesin. Nadya duduk di kursi belakang masih tanpa suara. Mereka melaju perlahan menuruni jalan sempit di kaki gunung. Udara pagi mulai terasa segar. Tapi di dalam mobil dinginnya berbeda. Bukan dingin dari udara, tapi dingin yang datang dari dalam dada. Raka sesekali melihat ke kaca spion. Nadya duduk diam. menatap keluar jendela, matanya kosong, seolah melihat sesuatu jauh di luar pandangan manusia biasa. Sekali waktu Raka mencoba bicara, “Bak, udah mendingan.” Nadya hanya mengangguk senyum tipis di bibirnya. Senyum itu tenang, tapi hampa.

Setelah 1 jam perjalanan mereka tiba di perbatasan kota kecil. tempat Nadya bilang rumahnya tak jauh dari situ. Dia minta turun di pinggir jalan di depan pohon asam besar yang tumbuh sendirian di tepi sawah. “Dari sini saya jalan, Mas. Rumahnya enggak jauh.” katanya pelan.

Raka menatap sekitar. Sepi. Tak ada rumah, tak ada jalan kecil pun ke arah manaun. Tapi sebelum sempat bertanya, Nadya sudah buka pintu dan keluar. Langkahnya perlahan, tapi mantap. Ia berjalan menembus kabut pagi yang menipis sampai akhirnya bayangannya hilang di balik cahaya matahari. Raka menatap kosong ke arah itu. Dia menunggu beberapa menit, tapi Nad tak kembali, tak menoleh. Akhirnya dia menghela nafas panas dan menyalahkan mobil.

Saat mobil mulai melaju, sesuatu di jok belakang menarik perhatiannya. Sehelai selendang tipis berwarna hitam, lembab, dan beraroma melatih. Dia menatapnya lama, tak ada keberanian untuk menyentuh. hanya diam dengan tangan gemetar di setir. Sementara dari speaker radio tiba-tiba terdengar suara lirih perempuan berbisik. “Terima kasih sudah mengantarku pulang.”

Sejak malam itu, Nadya tak pernah benar-benar tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, ia masih mendengar suara gamelan samar di kejauhan. Lembut, terputus-putus seperti datang dari dalam dirinya sendiri. Tapi kini di antara suara itu ada sesuatu yang baru. Nama Raka bergaung pelan dalam pikirannya. Hari-harinya kembali seperti semula atau setidaknya terlihat begitu dari luar. Ia kembali ke rumahnya. Rumah tua yang sepi di pinggir sawah dengan jendela kayu yang mulai lapuk. Orang-orang kampung hanya tahu Nad sempat pergi ziarah ke Gunung Kemukus. Tapi tak ada yang berani bertanya lebih jauh. Sejak pulang ia lebih sering diam. Namun senyum di wajahnya justru makin sering muncul. Senyum yang entah berarti bahagia atau tersesat. Kadang malam-malam Nadya duduk di teras sambil menatap langit. Dingin tapi hangat di dalam dadah. Ia memikirkan neraka. Lelaki yang awalnya hanya sopir tapi entah bagaimana kini terasa seperti bagian dari dirinya. Ia tak tahu kapan perasaan itu tumbuh. Mungkin saat mereka saling menatap di tengah kabut atau ketika tangan mereka bersentuhan dalam lingkaran batu itu. Atau mungkin sejak detek jantung mereka menyatu di bawah kabut ritual yang tak pernah benar-benar hilang. Mas Raka, apa kau juga ngerasa hal yang sama? Tak ada jawaban. Tentu saja. Tapi setiap kali angin berhembus dari arah gunung, ia merasa seperti mendengar langkah kaki, suara mesin mobil dan samaroma kopi hangat yang dulu diseduh lelaki tua di warung bawah gunung itu. Hari demi hari berlalu dan perasaan itu makin kuat. Ia mulai menulis pesan di ponselnya, tapi tak pernah dikirim. hanya ditulis lalu dihapus seperti seseorang yang menulis surat untuk orang yang mungkin sudah tak bisa dijangkau lagi. Namun malam ketujuh setelah ritual sesuatu berubah. Saat ia terbangun, Nad melihat di meja kayunya. Selendang hitam miliknya yang dulu tertinggal di mobil Raka kini terlipat rapi di sana. basah oleh embun, beraroma melati, jantungnya berdebar, tangannya gemetar saat menyentuh kain itu. Dan entah kenapa air matanya jatuh tapi bibirnya senyum. “Mas Raka, kamu datang ya?” Angin berhembus pelan meniup rambutnya. Dari luar terdengar samar suara mesin mobil menyala lalu berhenti. Dan untuk sesaat, Nadia yakin ritual itu belum benar-benar berakhir. Mungkin cinta ini adalah bentuk baru dari janji yang belum selesai ditepati.

Beberapa hari setelah kejadian di Gunung Kemukus, Raka mulai sering bengong. Kerja masih, tapi pikirannya kayak gak di situ. Tidur juga sering kebangun tengah malam. Dengar suara gamelan pelan dari kejauhan. Padahal rumahnya jauh dari mana-mana. Awalnya dia pikir cuma halusinasi. Tapi lama-lama setiap dengar suara itu, dia kebayang wajah Nadya. Senyumnya, tatapannya waktu malam di gunung itu semuanya kebayang jelas kayak baru kejadian semalam.

Suatu pagi pas Raka lagi nyuci mobil, HP-nya bunyi. Nomor yang enggak dia simpan. Tapi suaranya dia langsung kenal. Nadia suaranya lembut banget. “Mas, aku pengen ketemu.”

Cuma itu yang dia bilang. Tapi Raka langsung setuju. Dia gak mikir dua kali. Mereka janjian di tempat yang dulu, di bawah pohon asam besar yang berdiri sendirian di pinggir sawah, tempat yang dulu bikin Raka ngerasa aneh waktu ngantar Nadya pulang.

Pas dia sampai sana, udara lagi panas tapi di bawah pohon itu dingin banget. Dari jauh keliakan mobil putih berhenti pelan. Pintunya kebuka dan Nadya keluar dengan langkah pelan. Dia kelihatan beda. Gak pucat kayak waktu di gunung, tapi malah kelihatan lebih hidup. Wajahnya bersih, rambutnya diikat rapi, bajunya sederhana tapi rapi banget. Pas nyengir, Raka langsung rasa dadanya aneh, kayak lega, tapi juga takut.

Mereka ngobrol di bawah pohon itu berdua aja. Awalnya basa-basi. nanyain kabar. Tapi lama-lama Nadya mulai serius. Dia bilang setelah dari gunung itu hidupnya berubah. Katanya dia udah berhenti dari hal-hal yang dulu dia kejar. Udah gak nyari jalan pintas, enggak datang ke tempat-tempat aneh lagi. Dia cuma pengin hidup normal, tenang. Dan satu-satunya orang yang dia pikir bisa bikin itu terjadi cuma Raka. Waktu dia ngomong itu, nadanya gak manja, enggak maksa, tapi dalam kayak benar-benar dari hati. Dia bilang dia pengin serius, pengin nikah, pengin benar-benar mulai hidup baru bersama Raka.

Raka diam lama. Dia gak jawab iya, gak juga nolak. Dia cuma ngelihatin Nadya, dan di kepalanya mulai mutar bayangan malam itu. Waktu mereka di atas gunung, di tengah kabut, waktu tangannya sempat nyentuh tangan Nadya, waktu udara di sekitar mereka terasa berhenti.

Setengah jam enggak ada yang ngomong. Cuma angin yang pelan banget nyapu dedaunan kering di sekitar. Terus Nadya buka pintu mobilnya. Di dalam ada dua gelas kopi panas yang masih beruap. “Aku bawa kopi, Mas, biar gak kaku ngobrolnya.” Dia bilang sambil senyum.

Raka ambil satu gelas. Wangi kopinya enak, tapi samar-samar dia nyium bau melatih. Dingin langsung naik ke tengkuknya. Dia nengok pelan ke arah sawah. Sunyi. Cuma suara daun gesek angin. Pas dia nengok balik, Nad masih senyum, tapi matanya kayak redup. Ada yang berubah di situ. Entah apa, tapi senyumnya gak sehangat tadi. Raka minum seteguh kopi itu dan waktu cairannya masuk ke tenggorokan, jantungnya berdetak lebih cepat. Entah karena gugup, entah karena hal lain. Tapi di detik itu juga dari arak gunung, suara gamelan itu muncul lagi. Pelan, samar, kayak cuma dia yang bisa dengar.

Nadya menatap raka lama banget. “Mas, mungkin ini enggak kebetulan.” Katanya pelan. “Aku ngerasa malam itu bukan akhir, itu awal.” Dan waktu dia bilang begitu, Raka ngerasa ada sesuatu yang dingin mengalir di dalam dadanya. Bukan perasaan cinta biasa, lebih kayak panggilan lama yang datang lagi.

Setelah ngobrol agak lama di bawah pohon asam itu, Nadya tiba-tiba ngajak Raka mampir ke rumahnya. Awalnya Raka ragu, tapi nada suaranya tenang banget. Enggak maksa? “Sekalian aja, Mas. Minum teh di rumah. Enggak jauh kok. Cuma 5 menit dari sini.” Katanya. Akhirnya Raka nurut. Pikirnya enggak ada salahnya. Lagi pula setelah semua yang mereka lewatin, dia ngerasa enggak enak buat nolak.

Mereka jalan naik mobil masing-masing. Nadya di depan, Raka ngikut di belakang. Jalannya kecil. nembus sawah. Makin lama makin sepi. Rumah-rumah mulai jarang. Cuma lampu kecil di pinggir jalan yang nyala redup. Sampai akhirnya mobil Nadya belok ke gang sempit. Di ujungnya cuma ada satu rumah tua berdiri sendirian di tengah kebun melati yang udah setengah liar. Dari luar rumah itu besar tapi tua banget. Catnya udah pudar, jendelanya tinggi, dan di sebelah rumah berdiri pohon mangga yang daunnya rimbun banget sampai nutup setengah atap. Anehnya begitu mereka turun dari mobil, wangi bunga melati kecium jelas banget. Padahal di halaman gak kelihatan ada bunga sama sekali.

“Mas, masuk aja.” kata Nadya sambil senyum. Dia jalan duluan dan Raka ngikut dari belakang. Begitu mereka masuk, udara langsung berubah. Dingin, sunyi. Kayak rumah itu nyimpan suara dari masa lalu yang enggak mau pergi. Dindingnya penuh foto-foto hitam putih. Wajah-wajah orang zaman dulu. Ada satu foto besar di lorong. Gambar sepasang suami istri pakai pakaian adat Jawa berdiri di depan rumah yang sama persis. “Bapak sama Ibu aku,” kata Nadya pelan waktu Raka sempat ngelihatin. Nadanya tenang, tapi ada nada sedih yang disembunyikan.

Mereka enggak ke ruang tamu. Nadya malah ngajak Raka ke kamar, katanya biar lebih santai. Kamarnya luas, pencahayaannya redup, cuma ada lampu meja di pojok. Dindingnya warna krem pudar, ada tirai panjang yang gerak pelan kena angin. Di pojok kamar ada meja kecil. Di atasnya dupa yang abunya masih hangat. Dan di samping dupa itu, selendang hitam dilipat rapi. Selendang yang dulu Raka Ingat pernah ketinggalan di mobilnya.

Mereka duduk di atas kasur. Kasurnya empuk, tapi hawa dingin dari landai kayak naik pelan ke punggung. Nadya ngasih teh di gelas kaca kecil. Wangi melatinya makin kuat. Raka sempat nengok ke jendela. Langit masih sore, tapi cahaya di luar kayak lebih cepat gelap.

“Mas Raka.” Suara Nadya pelan banget. “Aku seneng, Mas, mau datang ke sini. Rasanya kayak rumah ini tenang lagi. Kayak udah lama nunggu kedatangan Mas.”

Raka cuma senyum kecil, tapi di dalam dadanya mulai ada rasa enggak enak. Bukan takut, tapi kayak ada sesuatu yang gak pas. Dia ngelirik ke foto di dinding kamar. Foto pasangan yang tadi dilihat di lorong. Dan entah kenapa, sekarang wajah mereka kelihatan lebih jelas dari sebelumnya. Tatapannya lurus langsung ke arah raka.

Belum sempat Raka melepas sepatu, Nadya sudah menarik kerah bajunya dan menariknya masuk. Bibir mereka bertemu dengan hasrat yang tertahan. Bukan lembut seperti embun, tapi hangat seperti api kecil yang lama dipendam. Ciuman itu dalam, penuh gerak, penuh rindu yang tak sempat diucapkan lewat kata. Raka membalas dengan pelukan erat. Tangannya melingkar di pinggang Nadya. mengangkatnya sedikit dari lantai. Nadya tertawa pelan di antara ciuman, tawa yang langsung ditelan kembali oleh bibiraka.

Mereka berjalan mundur tersandung pelan hingga punggung Nadya menyentuh dinding. Tapi Raka tak membiarkannya terlalu lama di sana. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia mengangkatnya dan Nadia melingkarkan kakinya di pinggangnya. Gerakan yang sudah mereka kenal, sudah mereka latih dalam diam-diam rindu.

Di atas ranjang, segalanya berubah ritme. Tak ada keheningan panjang, tak ada sentuhan yang terlalu pelan. Malam ini, tubuh mereka bicara dalam bahasa yang lebih cepat. Bahasa kerinduan yang menumpuk selama seminggu tak bertemu. Tangan Raka menyusuri tubuh Nadya dengan gerakan yang lebih berani, tapi tetap penuh penghargaan. Ia tahu di mana Nadya suka disentuh, di mana napasnya akan berubah, di mana tubuhnya akan sedikit lalu menarik nafas dalam. Nadya tak tinggal diam, tangannya meraih kaus raka, menariknya lepas, lalu jemarinya menyusuri dada dan perutnya, mengingat setiap lekuk, setiap bekas luka kecil, setiap tempat yang membuat raka mendesa pelan.

Mereka saling mengejar, saling menyerah, saling menguasai, tapi selalu dalam batas kasih sayang. Gerakan mereka tak kaku, tak terburu, tapi hidup seperti tarian yang sudah mereka latih dalam diam-diam rindu. Lalu ritme itu memuncak. Nadya mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya mendegang sejenak lalu meleleh seperti lilin yang akhirnya menyerah pada api. Ada aliran hangat yang menjalar dari dalam. Lembut alami seperti hujan pertama yang membasahi tanah kering. Ia pelan. Wajahnya tersembunyi di bantal. Tangannya mencengkeram sepra erat-erat.

Tapi Raka belum selesai. Ia tahu Nadya masih terbuka, masih menyerahkan diri. Dengan lembut tapi penuh keyakinan, ia mengubah posisi. Membimbing Nadya perlahan hingga ia berada di atasnya, lalu perlahan membalikkannya hingga Nad kini berlutut. Punggungnya melengkung lembut seperti busur yang siap melepaskan anak panah. Raka menyentuh pinggangnya, memberi dukungan, bukan tekanan. Lalu ia mulai bergerak perlahan dulu mengikuti irama tubuh Nadia yang masih bergetar dari puncak sebelumnya. Tapi perlahan ritmenya berubah lebih dalam, lebih cepat. Pinggulnya maju mundur dengan gerakan yang mantap, namun tetap penuh kendali. Seperti ombak yang tahu kapan harus menghantam, kapan harus surut.

Suara nafas mereka bercampur dengan desau kain, gesekan spray, dan detak jantung yang semakin kencang. Kaki Nadia sedikit bergemetar, tapi ia tak menarik diri. Ia menyerah pada ritme itu pada kepercayaan yang sudah terbangun sejak lama. Raka mempercepat gerakannya. Setiap dorongan kini penuh hasrat yang tertahan, penuh rindu yang akhirnya dilepaskan. Matanya menatap punggung Nad, tulang belikatnya yang naik turun, rambutnya yang menempel di leher berkeringat. Cara tubuhnya menerima setiap gerakannya tanpa ragu.

Dan ketika batas itu tiba, ia tak bisa menahan lagi. Sebuah erangan rendah keluar dari tenggorokannya. Bukan teriakan kasar, tapi pelepasan yang dalam seperti batu besar yang akhirnya runtuh dari tebing. Tubuhnya menegang. lalu melemas. Di dalam kehangatan yang Nadya berikan, ia menemukan puncaknya bukan hanya fisik, tapi juga emosional. Rasa kepemilikan, kepercayaan, dan kelegaan yang hanya bisa dirasakan saat dua Jima benar-benar menyatu. Ia jatuh ke samping Nad. Napasnya berat, keningnya berkeringat. Tanpa kata ia menarik Nad pelukannya, memeluknya erat. Seolah takut momon ini akan lenyap jika ia melepaskannya terlalu cepat.

Lama mereka diam. Hanya mendengar hujan yang masih turun di luar dan detak jantung yang perlahan kembali tenang. Di tengah kehangatan dan kelelahan itu, Raka menyadari sesuatu. Bau melati yang tadi menyengat di kamar itu sekarang berubah. Jadi lebih manis, lebih tebal, hampir seperti bunga yang sedang membusuk di tengah kehidupan. Dan di dinding, di foto hitam-putih itu, dia yakin dia melihat sepasang mata yang tadinya menatap lurus, sekarang sepertinya sedikit tersenyum. Pesugihan itu mungkin baru saja lunas. Dia bukan lagi sekadar sopir travel yang kebetulan lewat. Dia adalah pembayarannya. Dia kini bagian dari rumah ini, bagian dari darah yang mengalir di dindingnya, asmaara yang dikorbankan untuk pesugihan yang akan terus berbunga, bahkan di tengah kegelapan.


Tokoh & Perwatakannya

  1. Raka Setyo – Sang Sopir yang Terikat Perjanjian
    • Peran: Protagonis utama dan korban yang menjadi alat pembayaran dalam pesugihan. Dia adalah jendela pembaca ke dalam dunia supernatural yang merembes ke dalam kenyataannya.
    • Perwatakan: Pada awal cerita, Raka adalah seorang yang pragmatis, tenang, dan sedikit apatis. Digerakkan oleh kebutuhan dasar: uang. Ia memiliki rasa iba yang kuat, yang menjadi titik lemah sekaligus pendorong utama keterlibatannya. Ia bukan pemberani, melainkan seorang yang terdorong oleh rasa kemanusiaan yang akhirnya membawanya ke jurang.
    • Latar Belakang & Motivasi: Sebagai sopir travel dari Magetan, hidupnya monoton. Motivasi awalnya menerima order aneh ke Gunung Kemukus murni ekonomis. Ia tidak mencari petualangan, hanya ingin menyelesaikan pekerjaan.
    • Perkembangan Karakter: Perjalanan dari kenyataan menuju penerimaan horor. Keyakinannya yang logis dikikis oleh kejadian gaib. Rasa iba pada Nadya membuatnya melanggar batas. Puncak perubahannya terjadi di rumah Nadya, di mana ia tidak lagi melawan, tetapi justru menjadi bagian dari “pesugihan”. Ia berakhir sebagai pria yang sadar bahwa dirinya telah menjadi pembayaran yang permanen untuk utang leluhur Nadya, menerima takdirnya sebagai bagian dari siklus tersebut.
  2. Nadya – Penjaga Bunga Melati
    • Peran: Katalis utama dan pusat misteri. Ia adalah sosok tragis yang terjebak di antara dunia manusia dan dunia gaib, berjuang untuk melunasi pesugihan leluhurnya.
    • Perwatakan: Diperkenalkan sebagai sosok pucat, misterius, dan pendiam. Di balik ketenangannya terdapat keputusasaan untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi. Ia manipulatif, namun bukan karena kejahatan, melainkan karena kebutuhan untuk bertahan dan melunasi utang.
    • Latar Belakang & Motivasi: Ia adalah pewaris sebuah pesugihan yang dibuat oleh leluhurnya untuk kemakmuran, namun memiliki syarat yang harus dibayar. Motivasi utamanya adalah untuk melunasi pesugihan leluhur untuk menyelamatkan keluarganya dari bangkrut, yang ia pahami harus dilakukan dengan menyediakan “asmara” sebagai pengganti.
    • Perkembangan Karakter: Transformasi dari korban pasif menjadi agen aktif. Ia mulai sebagai seseorang yang meminta tolong, tetapi secara bertahap mengambil alih kendali untuk memastikan ritualnya selesai. Hubungannya dengan Raka adalah campuran antara kebutuhan tulus dan alat untuk mencapai tujuannya. Di akhir cerita, ia tidak memperoleh kebebasan, melainkan sebuah bentuk “kedamaian” permanen dengan berhasil mengikat Raka sebagai pembayaran, membagi beban yang kini menjadi beban mereka berdua di dalam rumah tua itu.
  3. Ki Sembara Wungu (Lelaki Tua di Warung) – Penjaga Gerbang Pertama
    • Peran: Archetype penjaga gerbang atau pemberi peringatan. Karakter eksposisi yang memberikan konteks penting kepada Raka tentang sifat sejati Gunung Kemukus.
    • Perwatakan: Bijaksana, letih, dan sinis. Ia telah menyaksikan terlalu banyak orang seperti Nadya dan Raka. Caranya berbicara yang serak dan santai menyembunyikan bobot dari kata-katanya.
    • Latar Belakang & Motivasi: Latar belakangnya tidak pernah dijelaskan, menambah aura mistisnya. Ia memiliki ikatan atau tugas tak tertulis di tempat itu. Motivasinya adalah untuk memberikan peringatan terakhir—sebuah belas kasihan bagi mereka yang akan masuk ke dalam “permainan” pesugihan.
    • Perkembangan Karakter: Karakter statis. Ia tidak berubah; fungsinya adalah menjadi titik tetap dalam dunia yang goyah, representasi dari pengetahuan kuno.
  4. Ki Jagabaya (Lelaki Tua di Gunung) – Penegak Perjanjian
    • Peran: Otoritas gaib yang memastikan aturan-aturan ritual pesugihan dijalankan dengan benar. Ia adalah wakil dari “mereka” yang menjaga Gunung Kemukus.
    • Perwatakan: Lebih tegas, kaku, dan berwibawa. Ia tidak bermaksud membantu atau menghakimi, ia hanya ada untuk memastikan prosedur diikuti. Keberadaannya mengesankan bahwa dunia gaib memiliki hukum dan birokrasinya sendiri.
    • Latar Belakang & Motivasi: Sama seperti Ki Sembara, latar belakangnya misterius. Ia adalah agen dari sistem yang lebih besar. Motivasinya tunggal: memastikan ritual “ditutup” dengan sempurna untuk menjaga keseimbangan, apa pun biayanya.
    • Perkembangan Karakter: Karakter statis, sebuah kekuatan alam yang personifikasi. Ia memperkuat ide bahwa Raka dan Nadya tidak lagi berhadapan dengan satu hantu, melainkan dengan seluruh sistem kepercayaan.
  5. “Mereka” (Entitas Gaib Gunung Kemukus) – Antagonis Kolektif
    • Peran: Antagonis utama yang tidak berwujud. Mereka adalah kekuatan tak terlihat yang mengatur Gunung Kemukus, menuntut pembayaran pesugihan, dan menyebabkan teror.
    • Perwatakan: Tidak memiliki perwatakan tunggal. Mereka hadir sebagai suara gamelan aneh, tawa serak, bayangan tanpa wajah, dan ketukan di jendela. Sifat mereka adalah kolektif, kuno, dan tanpa ampun. Mereka tidak berniat jahat, mereka hanya menjalankan hukum alam gaib mereka.
    • Latar Belakang & Motivasi: Latar belakang mereka adalah sejarah Gunung Kemukus itu sendiri, tempat di mana janji-janji dan kutukan mengendap. Motivasi mereka adalah untuk mengumpulkan “utang” dari para pelancong, memastikan setiap perjanjian pesugihan dipenuhi.
    • Perkembangan Karakter: Tidak memiliki perkembangan. Mereka adalah konstan, seperti hukum gravitasi dalam dunia cerita ini. Yang berubah adalah pemahaman Raka tentang mereka.

Deskripsi

  • Genre Cerita: Horor, Supernatural, Misteri, Romance Gelap, Thriller Psikologis
  • Dirilis Tanggal: 8 Februari 2026
  • Nama Tokoh: Raka Setyo, Nadya, Ki Sembara Wungu, Ki Jagabaya, “Mereka”.
  • Inti Cerita: Seorang sopir travel biasa menyetujui order aneh tengah malam ke Gunung Kemukus. Ia tidak sekadar mengantar penumpangnya, tetapi secara tidak sadar terjebak dalam upaya penumpangnya untuk melunasi sebuah pesugihan warisan. Rasa kemanusiaannya yang berlebihan justru menjadikannya alat pembayaran dalam pesugihan tersebut, mengikatnya dalam perjanjian supernatural yang mengaburkan batas antara cinta, keselamatan, dan kutukan abadi di sebuah rumah tua.
  • Cerita Singkat: Raka Setyo, seorang sopir travel, menerima order dari Nadya ke Gunung Kemukus. Perjalanan berubah menjadi mencekam ketika Raka mendapatkan peringatan gaib dan mendengar suara-suara aneh. Rasa iba pada Nadya yang putus asa karena keluarganya terancam bangkrut membuat Raka ikut naik ke puncak untuk membantunya menyelesaikan ritual pesugihan, sebuah keputusan yang mengubah nasibnya selamanya. Ritual yang gagal justru membawa mereka ke konfrontasi dengan penegak hukum gaib dan memaksa Raka untuk menjadi bagian dari perjanjian itu. Bukannya memutus kutukan, Raka malah menjadi “pasangan” yang selama ini dicari sebagai pembayaran. Cerita berakhir di rumah tua Nadya, di mana hubungan mereka yang terjalin di atas gunung disegel dalam sebuah ikatan supernatural, menjadikan Raka bagian dari rumah dan darah yang mengalir di dalamnya, terperangkap dalam “kedamaian” yang penuh dengan aroma bunga melati yang tak lagi wangi.

Tag

#CeritaHoror #Misteri #Supranatural #GunungKemukus #PesugihanAsmara #RitualGaib #PesanGaib #HororJawa #KutukanWarisan #CintaBerbahaya #SopirTravel #RumahTua #EntitasKolektif #ThrillerPsikologis #PanggilanGaib

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*