SEJARAH, SILSILAH DAN FILM WALI SONGO

A. Nama Wali Songo dan Nama Aslinya

  • Wali berarti utusan atau wakil. Sedangkan dalam ajaran islam dikenal kata waliyullah atau waliallah yang artinya orang yang beriman dan bertakwa, pelindung dan dapat dipercaya.
  • Beberapa pendapat mengenai arti Walisongo.
    • Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa.
    • Pendapat Kedua menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia.
    • Pendapat Ketiga menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
    • Pendapat Keempat yang mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah)
  • Para wali-wali ini mengabdikan diri mereka di jalan Allah untuk mengajak orang beriman kepada Allah dengan kerelaan, kelembutan dan tanpa paksaan.
    Para wali tersebut memiliki riwayat dan juga tempat dakwah tersendiri. Selain itu setiap wali juga menitipkan wasiat dan juga peninggalan terhadap umat islam di nusantara. Sehingga nama-nama wali songo tersebut dicantumkan dalam sejarah persebaran islam di nusantara.
  • Nama-nama Wali Songo di tanah Jawa
    1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
    2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
    3. Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)
    4. Sunan Drajat (Raden Qosim/Raden Syaifudin)
    5. Sunan Kalijaga (Raden Said)
    6. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
    7. Sunan Muria (Raden Umar Said)
    8. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
    9. Sunan Giri (Raden Paku / Muhammad Ainul Yakin)

B. Sekilas Sejarah Wali Songo

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

  • Sunan Gresik mempunyai nama asli Maulana Malik Ibrahim. Beliaulah orang pertama yang memulai dakwah peyebaran islam di pulau Jawa. Pada saat itu, tepatnya di akhir masa kerajaan Majapahit, Sunan Gresik memulai dakwahnya.
  • Beliau merangkul dan menolong rakyat jelata korban dari perang saudara akibat runtuhnya Majapahit. Beliau menarik hati rakyat kala itu dengan metode bercocok tanam dan perdagangan. Sehingga masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi mulai terbantu dan perlahan ingin mempelajari islam.
  • Karena semakin banyaknya orang yang ingin belajar islam, kemudian beliau mendirikan sebuah pondok di daerah Leran, Gresik. Beliau mengajar ilmu agama hingga akhir hayatnya dan meninggal di tahun 1941 M, jenazahnya dikebumikan di Desa Gapura Wetan, Gresik.
  • Perjuangan utama beliau adalah menghilangkan sistem kasta yang ada di masyarakat, karena semua manusia sama di mata Allah, yang membedakan hanya amal ibadahnya saja. Sunan Gresik mewariskan peninggalan berupa Masjid Malik Ibrahim, Leran, Gresik.
  • Silsilah Maulana Malik Ibrahim : 1. Nabi Muhammad Rosullullah SAW, 2. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A), 3. Al-Husain bin, 4. Ali Zainal Abidin bin, 5. Muhammad Al-Baqir bin, 6. Ja’far Shadiq bin, 7. Ali Al-Uraidhi bin, 8. Muhammad bin, 9. Isa bin, 10. Ahmad Al-Muhajir bin, 11. Ubaidillah bin, 12. Alwi bin, 13. Muhammad bin, 14. Alwi bin, 15. Ali Khali’ Qasam bin, 16. Muhammad Shahib Mirbath bin, 17. Alwi Ammil Faqih bin, 18. Abdul Malik Azmatkhan bin, 19. Abdullah bin, 20. Ahmad Jalaluddin bin, 21. Husain Jamaluddin bin, 22. Barakat Zainal Alam bin, 23. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

  • Sunan Ampel atau yang bernama asli Raden Rahmat adalah anak dari Sunan Gresik dan Dewi Condro Wulan. Dewi Condro Wulan adalah putri raja Champa yang masih keturunan Dinasti Ming yang terakhir.
  • Beliau menyebarkan agama islam di kalangan masyarakat pedesaan di derah Ampel Denta, Surabaya. Di sana beliau mendirikan pondok untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar agama islam dan berkonsultasi. Ajaran yang sangat terkenal dan diajarkan pada saat itu adalah falsafah “Moh Limo”. Moh artinya tidak/menolak, dan limo artinya lima.
  • Jadi isi dari ajaran tersebut adalah untuk menolak dan tidak melakukan lima hal, yakni Moh Main (tidak berjudi), Moh Ngombe (tidak minum-minuman keras), Moh Maling (tidak mencuri), Moh Madat (tidak mau menghisap candu/ganja/narkoba) dan Moh Madon (tidak berzina).
    Peninggalan dari Sunan Ampel adalah Masjid Ampel di Ampel Denta, Surabaya.
  • Setelah Sunan Ampel wafat, beliau dimakankan di dekat masjid Ampel. Sedangkan perjuangan dakwahnya diteruskan oleh anaknya yakni Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
  • Silsilah Sunan Ampel: 1. Nabi Muhammad Rosullullah SAW, 2. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A), 3. Husain bin, 4. Ali Zainal Abidin bin, 5. Muhammad al-Baqir bin, 6. Ja’far ash-Shadiq bin, 7. Ali Uraidhi bin, 8. Muhammad An-Naqib bin, 9. Isa Ar-Rumi bin, 10. Ahmad al-Muhajir bin, 11. Ubaidullah bin, 12. Alawi Awwal bin, 13. Muhammad Sohibus Saumi’ah bin, 14. Alawi Ats-Tsani bin, 15. Ali Kholi’ Qosam bin, 16. Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut), 17. Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin, 18. Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin, 19. Abdullah Khan bin, 20. Ahmad Jalaludin Khan bin, 21. Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar al-Husaini bin, 22. Maulana Malik Ibrahim / Ibrahim Asmoro bin, 23. Sunan Ampel / Raden Rahmat / Sayyid Ahmad Rahmatillah bin

Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)

  • Sunan Bonang memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, anak dari Sunan Ampel dari istri bernama Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila.
  • Selepas ayahnya wafat, Sunan Bonang memutuskan untuk belajar agama di Malaka, tepatnya di daerah Pasai. Di sana beliau menimba ilmu dari Sunan Giri khususnya dalam metodologi pengajaran islam yang menarik hati rakyat.
  • Setelah selesai menimba ilmu di sana, beliau pulang ke Tuban dan mendirikan pondok di tanah kelahiran ibunya tersebut. Karena karakteristik masyarakat di Tuban yang senang terhadap hiburan, maka Sunan Bonang membuat alat musik gamelan untuk menarik minat orang untuk belajar islam. Jadi di sela-sela pertunjukan musik diselingi dengan dakwah.
  • Peninggalan dari Sunan Bonang adalah alat musik tradisional gamelan berupa bonang, bende dan kenong. Selain itu beliau juga memperkenalkan arsitektur gapura bernafaskan islam.
  • Silsilah Sunan Bonang : 1. Nabi Muhammad Rosullullah SAW, 2. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A), 3. Hussain bin, 4. Ali Zainal ‘Abidin bin, 5. Muhammad Syahril, 6. Ubaidullah bin, 7. Alawi Awwal bin, 8. Muhammad Sohibus Saumi’ah bin, 9. Alawi Ats-Tsani bin, 10. Ali Kholi’ Qosam bin, 11. Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin, 12. Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin, 13. Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin, 14. Abdullah Khan bin, 15. Ahmad Jalaludin Khan bin, 16. Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin, 17. Maulana Malik Ibrahim bin, 18. Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin, 19. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)

Sunan Drajat (Raden Qosim/Raden Syaifudin)

  • Sunan Drajat atau yang dikenal dengan nama asli Raden Qosim adalah saudara seibu dari Sunan Bonang. Menurut beberapa kisah, beliau juga dikenal dengan julukan Raden Syaifudin.
  • Selepas ayahnya meninggal, beliau sempat belajar dan berguru ilmu agama pada Sunan Muria. Setelah itu barulah beliau kembali ke daerah pesisir Gresik yakni di Desa Jelog, pesisir Banjarwati, Lamongan.
  • Karena muridnya semakin banyak, maka beliau memutuskan untuk mendirikan pondok di daerah Daleman Duwur, tepatnya di Desa Drajat, Paciran, Lamongan.
  • Dalam dakwahnya beliau menyelipkan ajaran agama melalui suluk yang pernah dipelajarinya di tempat Sunan Muria. Suluk yang sering disampaikan pada murid-muridnya adalah “Suluk Petuah”. Dalam suluk tersebut ada beberapa pesan-pesan yang ditanamkan dalam diri manusia, khususnya ajaran untuk menolong sesama manusia. Salah satu kutipan di dalamnya adalah “Wenehono teken marang wong kang wuto (berilah tongkat pada orang buta). Wenehono mangan marang wong kang luwe (berilah makanan pada orang yang lapar). Wenehono busono marang kang wudo (berilah pakaian pada orang yang telanjang). Wenehono ngiyup marang wong kang kudanan (berilah tempat berteduh pada orang yang kehujanan)”.
    Masih ada beberapa suluk lain yang juga menjadi peninggalan dari Sunan Drajat tetapi yang terkenal adalah Suluk Petuah di atas. Hingga saat ini suluk-suluk Sunan Drajat masih diajarkan di pondok-pondok kuno di tanah Jawa.
  • Silsilah Sunan Drajat : 1. Nabi Muhammad Rosullullah SAW, 2. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A), 3. Sayyid Husein Assabti, 4. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini, 5. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini, 6. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak), 7. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini, 8. Muhammad An-Naqib Al-Huseini, 9. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini, 10. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini, 11.  Ubaidillah Al-Huseini, 12.  Alawi Al-Huseini, 13.  Muhammad Al-Huseini, 14.  Alawi Al-Huseini, 15.  Ali Khali’ Qasam Al-Huseini, 16.  Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini, 17.  Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini, 18.  Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut), 19.  Abdullah Khan Al-Huseini, 20.  Ahmad Jalal Shah Al-Huseini, 21.  Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini, 22.  Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini, 23.  Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta “Wali Songo”), 24.  Sayyid Hasim Al-Huseini (Sunan Drajat “Wali Songo”)

Sunan Kalijaga (Raden Said)

  • Sunan Kali Jaga adalah orang Jawa pribumi asli, lahir di Tuban dengan nama asli Raden Said. Beliau adalah anak dari bupati Tuban kala itu yang bernama Arya Wilatika. Arya Wilatika sendiri merupakan pemimpin dari kelompok pemberontakan Ronggolawe di zaman Majapahit. Raden Said muda kala itu mewarisi semangat ayahnya, beliau memrotes penarikan pajak tak berperikemanusiaan di zaman Majapahit.
  • Kemudian disusunlah rencana perampokan ke semua pejabat pajak dan membagikan seluruh hartanya pada rakyat miskin. Akibat aksinya tersebut, Raden Said dikenal seantero Majapahit dengan nama Bandar Lokajaya. Namun aksinya tersebut terhenti sejak beliau bertemu dengan Sunan Bonang. Beliau dinasehati agar berhenti, karena jalan kebaikan tidak bisa ditemuh dengan jalan keburukan.
  • Akhirnya Sunan Kali Jaga berhenti dan berguru ilmu agama di tempat Sunan Bonang. Dari sanalah beliau mendapat ide dalam berdakwah, yakni dengan gamelan dan wayang. Tentu saja didalamnya disisipkan dakwah dan ajaran agama islam. Karena beliau orang Jawa asli, maka ajaran yang disampaikan sangat membumi.
  • Beliau lebih menerapkan pengajaran agama yang bertahap. Menanamkan nilai agama dalam kebudayaan dan ideologi Jawa. Karena beliau berkeyakinan, ketika agama islam dipahami, maka secara otomatis kebiasaan buruk akan hilang dengan sendirinya. Peninggalan dari Sunan Kalijaga adalah seni ukir, wayang, gamelan dan suluk
  • Silsilah Sunan Kali Jaga dinasobkan ke Nabi Muhammad : 1. Nabi Muhammad Rasulullah berputri, 2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra (menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib) berputra turun temurun :, 3. Al-Husain, 4. Ali Zainal Abidin, 5. Muhammad Al-Baqi, 6. Ja’far Shadiq, 7. Ali Al-Uraidhi, 8. Muhammad, 9. Isa, 10. Ahmad Al-Muhajir, 11. Ubaidillah, 12. Alwi, 13. Muhammad, 14. Alwi, 15. Ali Khali’ Qasam, 16. Muhammad Shahib Marbath, 17. Alwi Ammil Faqih, 18. Abdul Malik Azmatkhan, 19. Abdullah, 20. Ahmad Jalaluddin, 21. Ali Nuruddin, 22. Maulana Mansur (8.a,b,c)/ Tumenggung Tuban (8.a,b)/ Bupati Tuban ke-7 Hariyo Tejo (1,2,3,4,5,6) / Syekh Subakir alias Muhammad Al-Baqir (8c), 23. Ahmad Sahuri alias Raden Sahur alias Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban ke-8), 24. SUNAN KALIJAGA alias Raden Said alias Lokajaya alias Syekh Malaya alias Pangeran Tuban alias Muhammad Abdussyahid (Generasi ke-24 dari Rasul, Turunan Rasul ke-23)
  • Silsilah Sunan Kali jaga dinasobkan ke Raja Jawa:  1. Prabu Banjaransari, 2. Raden Arya Metahun, 3. Bupati Lumajang Tengah Raden Arya Randu Kuning./ Kyai Ageng / Kyai Gede Lebe Lontong, 4. Bupati Gumenggeng Raden Arya Bangah; Bekas kabupaten tersebut sekarang menjadi Desa Banjaragung (Kecamatan Rengel), 5. Bupati Lumajang Raden Arya Dandang Miring, 6. Bupati Tuban ke-1 Raden Dandang Wacana / Kyai Gede Papringan, BERPUTRI, 7. Nyai Ageng Lanang Jaya / Nyai Lanang Baya [Istri Kyai Lanang Baya lihat Jalur Silsilah III, point 20], 8. Bupati Tuban ke-2 Haryo Ronggo Lawe / Rangga Teja Laku / Syeikh Jali Al-Khalwati / Syekh Khawaji [Dimasa ini Tuban di bawah kekuasaan Majapahit], 9. Bupati Tuban ke-3 Haryo Siro Lawe, 10. Bupati Tuban ke-4 Haryo Siro Wenang, 11. Bupati Tuban ke-5 Haryo Lana / Arya Teja I, 12. Bupati Tuban ke-6 Haryo Dikoro / Arya Teja II BERPUTRI, 13. Raden Ayu Hariyo Tejo berputra (Istri dari Bupati Tuban ke-7 Hariyo Tejo / Maulana Mansur, Lihat jalur Silsilah II point), [Di masa ini & masa putra beliau adalah masa transisi kepenguasaan akan Tuban dari Majapahit ke Demak], 14. Bupati Tuban ke-8 Raden Hariyo Wilatikta / Raden Ahmad Sahuri berputra, 15. SUNAN KALIJAGA.

Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

  • Sunan Kudus memiliki nama asli Ja’far Shadiq yang merupakan cucu dari Sunan Ampel. Jadi Ibu dari Sunan Kudus yang bernama Syarifah adalah anak dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati. Bisa dibilang Sunan Kudus adalah keponakan dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Beliau pernah menimba ilmu dengan kedua pamannya tersebut dan juga menimba ilmu di timur tengah. Tepatnya di kota Al-Quds, Yerusalem, Palestina.
  • Di sanalah beliau banyak mendapatkan pengetahuan dan ilmu agama dari ulama-ulama arab. Sekembalinya ke nusantara, beliau berinisiatif untuk mendirikan pondok tempat orang-orang belajar agama. Dipilihlah desa Loram, Kudus, Jawa Tengah sebagai tempat dakwahnya.
  • Karena keluasan ilmu yang didapatnya dari sunan-sunan dan para ulama arab, maka beliau diminta untuk menjadi pemimpin daerah Kudus. Beliau menyanggupinya, hal tersebut merupakan jalan terbaik untuk menyebarkan dakwahnya di kalangan pejabat, priyayi dan juga bangsawan kerajaan di Jawa. Karena ilmunya yang luas inilah, Sunan Kudus diberi gelar Wali Al-‘ilmi atau orang yang berilmu luas oleh wali-wali lainnya.
  • Dalam berdakwah, Sunan Kudus memakai metode yang sama dengan Sunan Kali Jaga. Yakni memakai budaya setempat yang disisipi nilai islam di tengah budaya Hindu. Peninggalan dari Sunan Kudus adalah Masjid Menara Kudus yang bangunan menaranya bergaya Hindu. Nama kudus sendiri sebenarnya diambil dari nama kota tempatnya belajar agama, yakni Al-Quds.
  • Selain peninggalan di atas, Sunan Kudus juga mewariskan budaya toleransi antar umat beragama. Salah satu ajarannya yakni tidak menyembelih sapi di hari Idul Adha untuk menghormati umat Hindu di Kudus. Beliau memerintahkan untuk mengganti sapi dengan kerbau.
  • Silsilah Sunan Kudus : 1. Nabi Muhammad SAW, 2. Fatimah Az-Zahra, 3. Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad, 4. Al-Imam Sayyidina Hussain, 5. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin, 6. Sayyidina Muhammad Al Baqir, 7. Sayyidina Ja’far As-Sodiq, 8. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi, 9. Sayyid Muhammad An-Naqib, 10. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi, 11. Ahmad al-Muhajir, 12. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah, 13. Sayyid Alawi Awwal, 14. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah, 15. Sayyid Alawi Ats-Tsani, 16. Sayyid Ali Kholi’ Qosim, 17. Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut), 18. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut), 19. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India), 20. Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan, 21. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan, 22. Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan, 23. Sayyid Ali Nurul Alam @ Sayyid Ali Nuruddin(bergelar Ratu Bani Israil), 24. Sayyid Ustman Haji / Sunan Ngudung bergelar Panembahan Palembang, 25. Pangeran Kudus / SUNAN KUDUS

Sunan Muria (Raden Umar Said)

  • Sunan Muria lahir dengan nama asli Raden Umar Said, atau Raden Umar Syahid. Nama kecil beliau ialah Raden Prawoto. beliau merupakan anak dari Sunan Kalijaga dan Saroh yang merupakan adik kandung dari Sunan Giri. Sunan Muria mengadaptasi metode pemnyampaian islam milik ayahnya, yakni lewat kebudayaan dan kesenian Jawa. Namun beliau lebih memilih menyebarkan agama di temat terpencil dan juga pesisir pantai.
  • Sehingga dipilihlah gunung Muria di daerah Muria, Jawa tengah sebagai pusat dakwahnya. Sedangkan jalur dakwah beliau meyebar sampai ke Jepara, Tayu, Juana, sekitar Kudus dan Pati. Rata-rata di seputaran pedesaan, gunung dan pesisir pantai.
  • Selain itu beliau juga lebih suka dan akrab dengan rakyat jelata. Karena menurut beliau rakyat jelata adalah kelomok masyarakat yang paling banyak jumlahnya dan juga mau menerima pengetahuan baru. Sehingga selain mengajarkan ilmu agama, Sunan Muria juga mengajarkan ilmu bercocok tanam, berdagang dan melaut sesuai kepandaiannya. Sedangkan untuk menarik minat masyarakat untuk memelajari agama digunakan media tembang, yang paling terkenal adalah tembang Sinom dan Kinanti.
  • Peninggalan dari Sunan Muria sendiri adalah Masjid Muria dan budaya kenduri mendo’akan orang yang meninggal setelah di kubur. Ada nelung dinani/3 hari, mitung diani/7hari, Matangpuluhi/40 hari, nyatus/100 hari, mendhak pisan, mendhak pindho, nyewu/1000 hari.
  • Silsilah Sunan Muria : Sunan Muria Bin Sunan Kali jaga (lihat silsilah Suanan Kali Jaga). Versi lain Sunan Muria bin Sunan Ngudung (Raden Usman Haji), putra Sunan Gresik (lihat silsilah sunan gresik/Maulana Malik Ibrahim)

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

  • Sunan Gunung Jati atau yang bernama asli Syarif Hidayatullah adalah keturunan dari bangsawan timur tengah. Ayahnya yang bernama Sultan Syarif Abdullah Maulana adalah keturunan Bani Hasyim dari Palestina yang merupakan pembesar di Mesir. Beliau yang terinspirasi oleh perjalanan dakwah Sunan Gresik kemudian hijrah ke tanah Jawa.
  • Beliau memutuskan untuk berdakwah di daerah sekitar Cirebon, Jawa Barat. Di sana beliau membangun pondok untuk mengajarkan ilmu agama islam pada masyarakat sekitar. Karena beliau orang timur tengah, maka metode penyampaian agamanya diajarkan secara lugas khas timur tengah.
  • Namun karena beliau juga sadar dengan kondisi masyarakat jawa, maka digunakanlah pengantar menggunakan musik gamelan. Cara ini mirip dengan cara yang dipakai oleh sunan-sunan sebelumnya. Tujuannya agar masyarakat mudah tertarik dengan dakwah dan sekaligus sebagai media komunikasi antar masyarakat. Eningglan dari Sunan Gunung Jati berupa Masjid Merah Panjunan, Kumangang adzan pitu dan Kereta untuk berdakwah
  • Silsilah Sunan Gunung Jati : 1. Nabi Muhammad SAW, 2. Fatimah Az-Zahra, 3. Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad, 4. Al-Imam Sayyidina Hussain, 5. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin, 6. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin, 7. Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin, 8. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin, 9. Sayyid Muhammad An-Naqib bin, 10. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin, 11. Ahmad al-Muhajir bin, 12. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin, 13. Sayyid Alawi Awwal bin, 14. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin, 15. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin, 16. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin, 17. Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut), 18. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin, 19. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin, 20. Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin, 21. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin, 22. Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin, 23. Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam, 24. Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin, 25. Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan

Sunan Giri (Raden Paku / Muhammad Ainul Yakin)

  • Sunan Giri terlahir dengan nama asli Raden Paku atau Muhammad Ainul Yakin. Jadi sebenarnya Sunan Giri adalah anak dari ulama islam yang berdakwah di daerah Pasai, Malaka. Namun karena saat itu ada konflik, maka ayahnya menitipkan Muhammad Ainul Yakin pada nelayan untuk dibawa ke Jawa yang lebih aman.
  • Kala itu kapal melewati Samudera Hindia dan mendarat di Selat Bali. Di sana Sunan Giri diangkat anak oleh Dewi Sekardadu, utri Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur. Dari situlah beliau diberi nama Raden Paku dan dibesarkan di istana.Setelah dewasa sang ibu angkat menceritakan masa lalunya dan siapa orang tuanya.
  • Akhirnya Sunan Giri memutuskan untuk kembali ke Pasai dan berguru agama pada ayahnya. Namun sebelum kembali, Sunan Giri sempat belajar agama di Ampel dan menjadi murid Sunan Ampel. Sesampainya di Pasai beliau menimba ilmu dan menggantikan ayahnya mengajar setelah wafat. Salah satu muridnya adalah Sunan Bonang yang tidak lain adalah anak dari Sunan Ampel, gurunya.
  • Setelah lama di Pasai akhirnya beliau kembali ke Blambangan. Beliau dikenal sebagai guru yang menyampaikan dakwah melalui keceriaan. Buktinya adalah dakwahnya disisipkan dalam lagu permainan seperti cublak-cublak suweng, jamuran dan lir-ilir. Bahkan beliau juga menciptakan tembang filsafah yakni pucung dan asmaradana. Peninggalan Sunan Giri adalah Masjid Giri, Giri Kedaton dan Telogo Pegat
  • Silsilah Sunan Giri : 1. Nabi Muhammad SAW, 2. Fatimah Az-Zahra, 3. Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad, 4. Al-Imam Sayyidina Hussain, 5. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin, 6. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin, 7. Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin, 8. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin, 9. Sayyid Muhammad An-Naqib bin, 10. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin, 11. Ahmad al-Muhajir bin, 12. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin, 13. Sayyid Alawi Awwal bin, 14. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin, 15. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin, 16. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin, 17. Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut), 18. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin, 19. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin, 20. Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin, 21. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin, 22. Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin, 23. Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi / Syech Samsu Tamres bin, 24. Sayyid Maulana Ishaq bergelar Pangeran Sendang Sedayu Blambangan bergelar Ki Supo ketika di Majapahit, 25. Sayyid Ainul Yakin / Sunan Giri

C. Tonton Vidio Wali Songo

Film Film Wali yang lain

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*