PENAMPAKAN POCONG DIKOTA TUA JAKARTA TERTANGKAP KAMERA

A. Selfie Bersama Pocong di Kota Tua

Jika kita mendengar kata pocong yang terlintas dibenak kita adalah menakutkan, serem dan lain sebagainya, namun tidak dengan pocong yang berada dikota tua ini, pocong ini selain menghibur justru keberadaanya sangat disenangi pengunjung wisata kota tua, para pengunjung dapat berfoto ria dengan pocong-pocong kota tua.

yahh,….pocong kota tua,…pocong yang munculnya bukan hanya malam hari saja, melainkan pagi, siang, sore dan malam…

Kini pocong kota tua juga ditemani penghuni-penghuni yang lain ada kuntil anak, suster ngesot, vampir, sundel bolong, genderuo, patung hidup, jin aladin, none belanda, dan masih banyak lagi aksi teatrikal lainnya.

Semua ini hasil karya seni yang selalu tampil dikota tua Jakarta, pengunjung kota tua bisa foto bersama dengan mereka, tidak ada tarif yang dipatok untuk berfoto dengan mereka, bisa dibilang ongkos seiklasnya.

Salah satu pocong yang sering mangkal di kawasan Kota Tua tersebut bernama Edo. profesi pocong diakuinya dia jalankan untuk mencari nafkah. Dalam menjalaninya, terkadang Edo harus berdiri di bawah pohon kurang lebih 5-8 jam dalam setiap harinya.

Edo tak sendiri, banyak teman-temanya yang lain yang terkumpul dalam suatu komunitas manusia batu taman fatahillah. mereka menyingkatnya dengan nama KOMBAT (Komunitas Manusia Batu)

B. Awal Mula Keberadaan Manusia Hantu & Manusia Batu di Kota Tua

Awalnya kombat didirikan oleh Idris dan teman-temannya. Idris menjalani profesi sebagai manusia batu sejak Juni 2011. Jalan kehidupan yang panjang membuatnya akhirnya di taman ini untuk menjadi manusia batu.

Akhir bulan Mei tahun 2011. Idris berangkat ke Jakarta dari rumahnya yang berada di Bogor, Jawa Barat menggunakan kereta ekonomi tujuan Jakarta Kota. Sambil membawa tas yang berisi pakaian seadanya, dengan penuh percaya diri akan mendapat pekerjaan di ibu kota.

Sesampainya di Kota Tua, dia berjalan menyusur jalan–jalan di Kotu (singkatan dari Kota Tua). Kurang lebih hingga dua jam dia menyusuri jalanan Jakarta Kota, mulai dari Stasiun Kota hingga menuju ke Sunda Kelapa.

Idris menjadi bingung harus ngapain karena tidak tahu harus usaha apa. Karena sudah banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya dan masing–masing dari mereka sudah memiliki lapak tersendiri.

Akhirnya idris istirahat di taman Fatahillah. Dia duduk di bawah pohon besar yang jaraknya sekitar 30 meter dari meriam. Sambil merokok dan minum air ia memikirkan apa yang harus dilakukan.

Dia pun tidak ingin usahanya datang ke Jakarta akan sia–sia tanpa hasil. Sambil tetap terus duduk di bawah pohon tersebut, dia menatap ke meriam yang berada di depan Museum Fatahillah. Idris belum berfikiran untuk menjadi manusia batu.

Idris mengamati setiap orang yang datang ke kotu pasti datang ke meriam sambil berfoto–foto. Yang membuatnya terinspirasi untuk menjadi manusia batu yaitu ketika ia melihat ada serombongan anak–anak pelajar SMA yang datang, mereka langsung mengeroyok meriam tersebut. Dari situ Idris berpikir kenapa dia tidak menjadi objek mereka juga.

Keesokan harinya, Idris pun mewujutkan pemikirannya tersebut. Dengan mengenakan kostum seadanya dia berdiri di atas meriam tersebut. Ia pinjam pakaian dari temannya, Idris bilang kalau dia ingin menjadi manusia batu dengan konstum tentara akhirnya temannya meminjamkannya. Idrispun kemudian menjadi manusia batu di meriam tersebut.

Hari pertama menjadi manusia batu membuat Idris meraih uang sekitar Rp 200 ribu. Saat itu belum ada manusia lain yang meniru gayanya. Namun hal yang merepotkan yaitu dia sempat diusik oleh sejumlah para pedagang yang ada di Kota Tua. Dia pun akhirnya menjelaskan maksud dan tujuannya menjadi manusia batu.

Dengan penjelasan idris yang ingin bekerja dan dibayar dengan sukarela, karena tujuan utama yaitu menghibur mereka dengan menjadi objek foto mereka maka idris dapat meneruskan menjadi manusia batu.

10 hari Idris menjadi manusia batu, dia pun dikejutkan oleh kehadiran manusia batu yang lainnya. Saat itu, ada sekitar lima orang yang menjadi manusia batu. namun idris tidak mempermasalahkannya, jaraknya lumayan jauh. mereka saling mengerti kalau mereka sama-sama mencari uang.

Setelah waktu berjalan Idris mulai terusik, ia bersama manusia batu yang lain memiliki profesi yang sama yaitu sama–sama menjadi objek foto tetapi masing–masing dari mereka tidak ada yang pernah saling menyapa hanya saling senyum jika mereka bertemu.

Kondisi ini membuat Idris berinisiatif untuk mengumpulkan para manusia batu tersebut. Dia pun menyampaikan pendapat bahwa dia ingin membentuk sebuah komunitas yang bernama Komunitas Manusia Batu karena itu untuk menjaga kebersamaan mereka. Komunitas ini pun disepakati didirikan pada bulan April 2013 dan idris menjadi ketuanya.

Komunitas ini juga memiliki sebuah program yaitu ingin membersihkan Kota Tua dari sampah–sampah yang berserakan, Untuk itu setiap minggunya mereka mengumpulkan uang yang masing–masing anggota ditarik Rp 25 ribu. Uang tersebut digunakan untuk membeli tempat sampah, sapu, pengki dan alat kebersihan lain di Kotu

Inilah yang membuat pihak Museum yang dikelola oleh Bank Mandiri tertarik. Pihak museum pun akhirnya mendukung upaya mereka untuk menjadi bagian dari museum sebagai manusia patung.

Usaha Idris membentuk Komunitas Manusia Batu pun berbuah manis. Hampir setiap minggu dia bersama para anggota komunitas mendapat tawaran untuk menjadi manusia batu di museum–museum, bahkan mereka ditawari untuk menjadi icon kampanye salah satu partai politik.

Berawal dari ide manusia batu itulah kemudian muncul ide baru dengan karakter yang berbeda. Pedagang yang sudah berjualan ingin menambah pendapatan dengan berpose para hantu, komunitas ini ada yang menyebutnya KOMHAN (Komunitas Manusia Hantu),

Awal mulanya hantu-hantu ini muncul malam hari saja, siangnya tetap berdagang, namun jika hari-hari rame hantu ini muncul bukan hanya malam hari, namun siang hari mereka juga tampil.


Bacaan serupa : okezone.com,  merahputih.com, detik.com, suara.com, kompasiana.com, beritaempat.com, komunitasmanusiabatu,

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*