EPHEMERIS HISAB RUKYAT

A. Istilah Istilah Dalam Ephemeris Hisab Rukyat

Metode hisab berdasarkan tingkat akurasi ketelitiannya dibagi menjadi tiga macam

  • Hisab Urfi (‘urf = kebiasaan) adalah hisab yang mengacu pada siklus rata-rata gerakan benda langit, sehingga hanya bersifat matematik(hitungan rata-rata) Misalnya : Kalender Masehi, Urfi Umar Bin Khottob, Asapon, Aboge, Munjib dll
  • Hisab Hakiki Taqribi,  adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana sehingga hasilnya kurang telit. Misalnya: Sullam al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fat al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah dsb
  • Hisab Hakiki Tahqiqi, menggunakan kaidah-kaidah astronomis dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi, Misalnya: Hisab Hakiki, Tadzkirah al Ikhwan, Badi’ah al Mitsal dan Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah, Al Khushah al Wafiyah, dsb.
  • Hisab hakiki kontemporer, tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai kebenaran yang mendekati kepastian Misalnya Ephemeris Hisab Rukyat, Jean Meeus, New Comb, EW Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dll

Salah satu metode hisab kontemporer adalah Ephemeris Hisab Rukyat, Di dalam buku Ephemeris Hisab Rukyat disediakan data mengenai matahari dan bulan yang dapat dijadikan acuan dalam melakukan perhitungan-perhitungan Falak diantaranya menghitung arah Kiblat, menentukan awal waktu sholat, menentukan awal puasa serta menghitung terjadinya gerhana matahari dan bulan.

Untuk mengetahui istilah-istilah yang digunakan dalam buku ephemeris adalah sebagai berikut:

Data Matahari, antara lain:

  1. Ecliptic Longitude atau Bujur Astronomis ( تـقـويم  / الطـول      ) yaitu jarak matahari dari  titik Aries ( Vernal Equinox /  الحـمـل  ) diukur sepanjang lingkaran ekliptika. Jika nilai bujur astronomis matahari dan bulan sama, maka terjadilah ijtima’. Data ini diperlukan untuk  ijtima’ atau gerhana.
  2. Ecliptic Latitude atau Lintang Astronomis, yaitu jarak titik pusat matahari dari lingkaran ekliptika. Data ini dibutuhkan antara lain untuk perhitungan gerhana.
  3. Apparent Right Ascension atau Asensio Rekta ( الـصـعـود المـستـقـيم / المـطـالـع الـبلا ديــة ), atau Panjatan Tegak, yaitu jarak matahari dari titik Aries  ( Vernal Equinox /  الحـمـل ) diukur sepanjang lingkaran Equator. Data ini diperlukan antara lain untuk  ijtima’, gerhana dan ketinggian hilal.
  4. Apparent Declination atau Deklinasi Matahari  yang terlihat dan  bukan yang  hakiki ( مـيل الشـمس ), yaitu jarak matahari dari Equator.  Data ini diperlukan untuk  awal waktu shalat, bayang-bayang kiblat, ijtima’ dan irtifa’ hilal.
  5. True Geocentric Distance atau Jarak Geosentris, yaitu jarak antara Bumi dan Matahari. Nilai 1 pada data ini merupakan jarak rata-rata Bumi-Matahari, sekitar 150 juta km. Jarak terdekat pada saat Bumi menempati titik api terdekat, yaitu Perigee (حـضـيض ), sedang jarak terjauh ketika Bumi berada di Apoge (الأ وج  ). Data ini diperlukan untuk  gerhana.
  6. Semi Diameter atau Jari-jari Matahari (نـصـف الـقـطــر ), yaitu jarak titik pusat Matahari dengan piringan luarnya. Data ini dibutuhkan untuk terbit dan terbenam matahari.
  7. True Obliquity atau Kemiringan Ekliptika ( المـيل الـكلي  ), yaitu kemiringan Ekliptika dari Equator. Data ini diperlukan untuk  ijtima’ dan gerhana.
  8. Equation of Time atau Perata Waktu ( تـعــديـل الـو قـت / تـعــديـل الشمس ), yaitu selisih antara waktu kulminasi Matahari Hakiki dengan waktu kulminasi Matahari Pertengahan. Data ini dibutuhkan terutama dalam  awal waktu shalat.

Data Bulan, antara lain:

  1. Apparent Longitude atau Bujur Astronomis Bulan yang terlihat (تــقـويم / طـول الـقمــر), yaitu jarak antara titik  Aries  ( Vernal Equinox /  الحـمـل  ) diukur sepanjang lingkaran Ekliptika. Data ini diperlukan untuk  ijtima’ dan gerhana.
  2. Apparent Latitude atau Lintang Astronomis Bulan yang terlihat (عـرض الـقـمــر), yaitu jarak antara  Bulan dengan Lingkaran Ekliptika diukur sepanjang lingkaran kutub ekliptika. Nilai maksimum dari Lintang Astronomis Bulan ini adalah 5° 8′. Nilai positif, berarti Bulan berada di Utara ekliptika dan nilai negatif, berarti di Selatan ekliptika. Jika saat ijtima’ nilai lintang Astronomis Bulan sama atau hampir sama dengan nilai Lintang Astronomis Matahari, maka akan terjadi Gerhana Matahari. Data ini diperlukan untuk  ijtima’ dan gerhana.
  3. Apparent Right Ascension atau Asensio Rekta ( الـصـعـود المـستـقـيم / المـطـالـع الـبلا ديــة  ), atau Panjatan Tegak, yaitu jarak titik pusat Bulan dari titik Aries  (Vernal Equinox /  الحـمـل ) diukur sepanjang lingkaran Equator. Data ini diperlukan antara lain untuk  ijtima’, gerhana dan ketinggian hilal.
  4. Apparent Declination atau  Deklinasi  Bulan  yang  terlihat  dan  bukan  yang  hakiki ( مـيل الـقمــر ), yaitu jarak Bulan dari Equator.  Data ini diperlukan untuk  ijtima’, gerhana dan hisab irtifa’ hilal.
  5. Horizontal Parallax. Parallax ( إخـتلاف المـنـظـر  ) itu adalah sudut antara garis yang ditarik dari benda langit ke titik pusat bumi dan garis yang ditarik dari benda langit ke mata pengamat. Horizontal Parallax  adalah parallax dari bulan yang sedang berada persis di horizon/ufuk. Data ini diperlukan untuk melakukan koreksi  ketinggian hilal dari irtifa’ haqiqi  menjadi irtifa’ mar-i.
  6. Semi Diameter atau Jari-jari Bulan ( نـصـف الـقـطــر ), yaitu jarak titik pusat bulan  dengan piringan luarnya.  Data ini dibutuhkan untuk  ketinggian piringan atas hilal, sebab semua data bulan adalah data titik pusatnya.
  7. Angle Bright Limb atau Sudut Kemiringan Bulan yaitu sudut kemiringan piringan hilal yang memancarkan sinar sebagai akibat arah posisi hilal dari matahari. Sudut ini  diukur  dari garis  yang  menghubungkan  titik  pusat hilal dengan titik Zenith    (  سمت  الــرأس  ) ke garis yang menghubungkan titik pusat hilal dengan titik pusat matahari dengan arah sesuai dengan perputaran jarum jam.
  8. Fraction Illumination, adalah besarnya piringan bulan yang menerima sinar matahari dan menghadap ke bumi. Data ini dapat dijadikan pedoman untuk menghitung ijtima’ dan bulan purnama atau pengecekan mengenai besarnya hilal.

B. Download Ephemiris Hisab Rukyat

C. Perhitungan Perhitungan dengan Ephemiris

  • Menghitung Arah Kiblat
  • Menghitung Awal Waktu Sholat
  • Menghitung Awal Bulan
  • Menghitung Terjadinya Gerhana

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*